Titik panas terbanyak ada di Pulau Kalimantan. Untuk Kalimantan Barat saja terdapat 48 hotspot di Kabupaten Sanggau yang sebagian besar berasal dari pembukaan kebun.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat terus dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar gembira datang dari Riau. Kebakaran hutan dan lahan yang sebelumnya sempat merebak di wilayah Riau telah berhasil dipadamkan. Tidak ada hotspot di sana. Pantauan satelit maupun patroli udara, menurut Sutopo, menunjukkan tidak ada yang terbakar.
Nihilnya hotspot ini, kata Sutopo, menyebabkan kualitas udara di Riau pada tingkat baik. Seluruh pengukuran kualitas udara yang dilakukan di Sumatera menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pengukuran Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru, Kampar, Pelalawan, Siak, Dumai, Rokan Hilir, Bengkalis, Kepri, Palembang, Aceh dan Jambi semuanya di bawah 50 psi (pollutant standard index).
"Artinya udara baik dan sehat. Jarak pandang juga di Pekanbaru 7 kilometer (km), Rengat 6 km, Dumai 7 km, dan Pelalawan 5 km," kata Sutopo.
"Pelaku ada yang wajib lapor, membuat pernyataan, dan ditahan," katanya.
Terus adanya titik api, menurut Sutopo, karena masih ada sebagian masyarakat yang membuka lahan pertanian dengan cara membakar. Selain itu kendala pemadaman juga karena terbatasnya air untuk water bombing dan pemadaman di darat, serta jauhnya sumber air dengan lokasi kebakaran. (rel/abm)