Pada hari kejadian, Nazir mengatakan, Polda Riau sebenarnya sudah menawarkan pendampingan saat dirinya hendak melakukan inspeksi. Namun, ia lebih memilih didampingi oleh polisi hutan karena menganggap mereka lebih paham medan yang menjadi lokasi inspeksi.
"Jadi memang rekan polisi menawarkan pengawalan, tapi saya pikir tak perlu karena merasa cukup dengan polisi hutan," kata Nazir saat ditemui di Kantor Wakil Presiden, Kamis (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan tersebut dan informasi yang terkumpul, dirinya bersama jajaran BRG memutuskan untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Tujuannya untukmengukur titik kordinat, mengukur kanal, dan keperluan teknis lain.
Petugas keamanan meminta agar rombongan BRG menunjukkan surat izin sidak di lahan itu. "Keamanan itu tampak terlalu protektif," kata Nazir.
Tim pendamping juga sempat meminta petugas keamanan memberitahu ke atasan mereka perihal kedatangan rombongan BRG. Namun, mereka enggan menuruti saran polisi hutan dan tetap meminta rombongan BRG pergi dari lokasi.
Nazir mengatakan, pihaknya memilih bertahan di lokasi karena tak ingin pulang dengan tangan hampa.
Ia dan anak buahnya kemudian mengambil sampel dan data di lokasi kebakaran lahan tersebut.
"Saat itu pihak keamanan perusahaan meminta kami tidak mengambil sampel apapun, tapi mereka tidak melakukan pemaksaan secara fisik," tuturnya.
Petugas itu memakai baju hitam bertuliskan ‘Keluarga Besar Komando Pasukan Khusus’ atau Kopassus.
“Perintah kami sudah seperti itu. Ya enggak bisa, enggak bisa pak,” kata dia kepada tim BRG dalam video tersebut.
“Bapak dari Kopassus ya?” kata salah satu tim BRG.
“Iya Pak,” kata dia, “..Grup III Kopassus, saya Pak.”
"Kalau ada orang mengaku tentara, dia pasti bukan tentara," ujar Joko kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/9).
Joko mengatakan, lembaganya tidak menempatkan prajurit dalam tugas apapun di Riau. Kopassus juga, ujarnya, tak bekerja sama dengan perusahaan manapun terkait jasa pengamanan.
"Kopassus hanya ada di Jakarta, Serang, Solo, dan Bandung," ujar Joko merujuk pada markas lima grup pada komando utama TNI Angkatan Darat itu.