LAPORAN KHUSUS

Menjelajah Lubang Buaya, Menilik Awal Ajal PKI

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 29/09/2016 10:57 WIB
Gelap menggayut di langit Lubang Buaya, pusat gempa 30 September 1965 yang diiringi banjir darah setahun seusainya. Di Museum Pengkhianatan, kengerian membekap. Lubang Buaya menjadi pusat gempa 30 September 1965. Setahun sesudahnya, banjir darah mengiringi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Daun-daun berguguran di sepanjang jalan masuk menuju Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Siang itu, kompleks memorial seluas 14,6 hektare tersebut tampak sunyi. Langit gelap berpadu rintik gerimis dan embusan angin dingin.

Tak jauh dari area monumen, satu rombongan keluarga duduk melingkar di pendopo yang menaungi sumur tempat para jenderal dikubur. Mereka berdoa dalam keheningan alam beralunkan rinai hujan.

"Itu kelompok Wali Songo asal Cirebon," kata M. Yutharyani, Perwira Seksi Pembimbingan Informasi Monumen Pancasila Sakti, saat ditemui CNNIndonesia.com di ruangan kerjanya, Kompleks Lubang Buaya, awal September.


Pemandangan khidmat itu sudah biasa disaksikan Yutharyani. Kompleks Lubang Buaya kini memang bukan hanya berfungsi sebagai monumen sejarah, tapi juga jadi bagian dari wisata ziarah.

"Mereka (peziarah) melihat tempat ini sebagai salah satu tempat ritual juga. Di sumur itu, mereka mendoakan pahlawan bangsa," kata Yutharyani.

"Sumur maut" merupakan situs inti di zona utama Kompleks Memorial Lubang Buaya. Situs itu memiliki luas sembilan hektare. Lubang sumur berdampingan dengan tiga bangunan yang menjadi saksi bisu Gerakan 30 September 1965, yakni rumah penyiksaan, pos komando, dan dapur umum.

Monumen tujuh perwira didirikan tak jauh dari sana. Patung-patung pahlawan revolusi itu dibangun rezim Soeharto pada kurun waktu 1967-1972 untuk mengingat perjuangan berdarah mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman paham komunisme.

Kompleks Lubang Buaya terus mengalami penataan sepanjang Orde Baru berkuasa. Terhitung dua dekade setelahnya, Soeharto membangun dua museum sebagai etalase sejarah dalam bentuk diorama.

Pada 1981, Soeharto meresmikan Museum Paseban yang merunutkan cerita persiapan pemberontakan, penculikan jenderal, penganiayaan, pelarangan Partai Komunis Indonesia, hingga peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto.

Selanjutnya pada 1992, Soeharto meresmikan Museum Pengkhianatan PKI. Ini museum “penutup” sebelum The Smiling General itu akhirnya lengser pada 1998. Museum ini memuat diorama tentang sepak terjang PKI di Indonesia.

Museum Pengkhianatan PKI di Kompleks Lubang Buaya diresmikan Soeharto pada 1992, enam tahun sebelum ia lengser. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Lembab dan senyap adalah kesan pertama saat memasuki Museum Pengkhianatan PKI. Derap kaki menggema di sepanjang lorong yang berisi deretan etalase diorama (miniatur dari suatu peristiwa). Tak kurang dari 40 diorama terdapat di museum ini.

Pencahayaan redup, nuansa muram, dan sapuan warna pucat di ruangan memperkuat kengerian yang ditampilkan pada diorama. Detail ekspresi dan gesture pada miniatur tiga dimensi itu tampak hidup dalam kebekuan.

Diorama karya Edhi Sunarso, pemahat kesayangan Bung Karno, dipajang  dalam etalase berlapis kaca berukuran 2 x 2 meter. Tiap etalase memajang diorama berdasarkan urutan peristiwa sejarah.

Pengunjung akan digiring dalam lorong berisi deretan etalase yang menyuguhkan diorama mulai dari kisah munculnya bibit-bibit pergerakan PKI pada 1945 hingga peristiwa G30S yang meletus pada 1965.

Diorama diawali dengan Peristiwa Tiga Daerah usai Proklamasi Kemerdekaan 1945. Saat itu kelompok komunis bawah tanah digambarkan sudah mulai menyusup ke organisasi massa dan pemuda untuk melakukan pergerakan.

Pada diorama itu, PKI sejak awal kemunculannya digambarkan sebagai kelompok pemberontak bangsa yang kerap rusuh dan menebar teror.

Kisah terus bergulir di sepanjang lorong bangunan dua lantai itu. Sedikitnya ada 42 diorama yang menggiring pengunjung pada cerita kebangkitan hingga kehancuran PKI di Indonesia.

Tak hanya PKI, keterlibatan organisasi afiliasi yang menjadi motor penggerak massa seperti Buruh Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR) juga turut disajikan dalam diorama. Tak ketinggalan peran Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Gerwani ialah organisasi perempuan yang memiliki kedudukan cukup kuat di Indonesia pada era 1950 sampai 1960-an, dan memiliki hubungan erat dengan PKI menjelang 1965. Gerwani yang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosialis dan feminisme, juga intens di perpolitikan.
Tudingan keterlibatan Gerwani dengan G30S pada Museum Pengkhianatan PKI, salah satunya digambarkan dalam diorama Peristiwa Bandar Betsi di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 14 Mei 1965.

Saat itu Gerwani bersama Buruh Tani Indonesia dan Pemuda Rakyat disebut telah menguasai tanah negara secara tak sah di sejumlah tempat. Gerwani diceritakan menggalang massa untuk mengeroyok seorang prajurit TNI yang bertugas menjaga tanah di sana.

Alih-alih mengindahkan peringatan, menurut keterangan pada diorama, Gerwani bersama BTI dan PR memukuli prajurit tersebut dengan berbagai benda, termasuk benda tajam.

"Prajurit itu terlentang di tanah. Seketika itu juga kepalanya dicangkul oleh seorang anggota BTI. Akibat penganiayan itu, Pelda Sujono tewas di tempat," demikian penggalan teks yang menjelaskan diorama tersebut.
Teks panduan yang ada di masing-masing etalase mempertegas kengerian dari potret diorama yang tersaji di tiap babak. Ekspresi garang, gesture penganiayaan, serta detail parang yang diacungkan oleh para simpatisan PKI seperti gerak nyata dalam geming.

Tiap detail miniatur peristiwa yang terpampang dalam diorama, kata Yutharyani, ialah hasil riset lapangan di bawah komando ahli sejarah Nugroho Notosusanto. Sementara teks yang disertakan pada etalase merupakan panduan cerita dari diorama itu sendiri.

Seluruh rangkaian cerita yang tersaji pada diorama Museum Pengkhianatan PKI sampai sekarang masih diandalkan sebagai bahan literatur sejarah di sekolah-sekolah.

Salah satu diorama di Museum Pengkhianatan PKI yang memperlihatkan peristiwa saat jasad jenderal Angkatan Darat dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Menurut Yutharyani, jumlah pengunjung museum dalam setahun mencapai 10-15 ribu orang. Mereka dominan siswa. Sejumlah sekolah bahkan rutin mengirim rombongan siswa setiap tahun ke museum itu. Sementara mahasiswa biasanya datang untuk melakukan riset.

"Jadi museum ini fungsinya lebih banyak digunakan sebagai edukasi sejarah," kata dia.

Meski tersedia teks panduan yang menjelaskan kronologi peristiwa pada diorama, tak sedikit pengunjung yang meminta ditemani oleh pemandu.

Pemandu museum berperan menjelaskan lebih detail peristiwa yang terjadi di luar teks dan visual diorama. Tak sembarang orang bisa menjadi pemandu di Museum Pengkhianatan PKI.

Pemandu museum, kata Yutharyani, adalah mereka yang khatam membaca empat jilid buku Bahaya Laten Komunisme di Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah Sejarah dan Tradisi Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Buku tersebut menggambarkan bagaimana riwayat masuknya komunisme di Indonesia, serta sepak terjangnya dalam melakukan pemberontakan.

"Kami haru membaca itu sebagai babon (naskah sumber). Itu buku pedoman kami," ujar Yutharyani.

Seorang pemandu Museum Pengkhianatan PKI harus menguasai detail cerita penyiksaan yang menimpa para jenderal di Lubang Buaya.

Penyiksaan itu, menurut Yutharyani, berupa pemukulan dengan cara dipopor senjata atau ditendang dengan sepatu lars yang keras.

Berdasarkan hasil visum, kata Yutharyani, jenderal-jenderal korban G30S mengalami retak tulang kepala, serta patah tulang kaki dan tangan.

Namun soal kebenaran cerita tentang penyiletan kemaluan dan pencungkilan mata para jenderal, Yutharyani tak bisa memastikan.

Di sisi lain, Yutharyani meyakini tidak ada tarian telanjang yang dilakukan oleh Gerwani.

“Itu tidak ada. Tapi memang dia (anggota Gerwani) nari-nari sambil mukul orang. Orang kesakitan, dia nyanyi-nyanyi. Lagunya Genjer-Genjer,” ujar Yutharyani.
Relief pada Monumen Pancasila Sakti yang memperlihatkan perempuan-perempuan menari saat para jenderal Angkatan Darat dibunuh di Lubang Buaya. (John Roosa/Buku Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto)
Museum Pengkhianatan PKI adalah peneguhan atas tamatnya riwayat Partai Komunis Indonesia.

Seperti dituliskan John Roosa, Associate Professor Departemen Sejarah University of British Columbia dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, pesan moral dari museum itu ialah bahwa PKI sejak Indonesia merdeka bersifat antinasional, antiagama, agresif, haus darah, dan sadis.

Sementara penjelasan soal komunisme sebagai ideologi antitesis kapitalisme, sama sekali tak disinggung dalam museum tersebut. Peran PKI melawan kolonialisme Belanda juga tak disebutkan sedikitpun.

Peristiwa G30S tahun 1965, dengan Lubang Buaya sebagai lokasi sentral tragedi ketika jenderal-jenderal TNI Angkatan Darat dibuang di satu sumur di sana, menjadi “kuburan” PKI. Kejadian itu membuat PKI dihancurkan, dan dinyatakan sebagai partai terlarang tahun berikutnya, 1966.

Pesan pemerintah Soeharto, sang jenderal pemimpin operasi penumpasan PKI, tertera jelas pada dinding di sisi pintu keluar museum. Pesan itu seluruhnya tertulis dalam huruf kapital.

“Terima kasih kepada Anda yang telah menyaksikan sebagian dari diorama peristiwa biadab yang dilakukan oleh PKI. Jangan biarkan peristiwa semacam itu terulang kembali. Cukup sudah tetes darah dan air mata membasahi bumi pertiwi...”

Namun hingga kini, sejarah versi Orde Baru tersebut ditentang sejumlah pihak. PKI diduga bukan satu-satunya dalang di balik G30S. Banyak faktor memengaruhi kejadian itu –yang berujung pada pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto.

“Soeharto mengambil banyak tindakan,” kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam.

Kampanye antikomunis digalakkan. Pemerintah Orde Baru melakukan propaganda secara sistematis dan masif, disertai pertimbangan matang, dengan sokongan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Keterlibatan ketiga negara itu, dengan derajat berbeda, disebut dalam putusan Pengadilan Rakyat Internasional atas Kejahatan Kemanusiaan Periode 1965 (International People’s Tribunal 1965) yang dibacakan pada 20 Juli 2016.

AS disebut memberi dukungan kepada militer Indonesia dalam memberangus PKI dan para pendukungnya, sedangkan Inggris dan Australia disebut melakukan kampanye palsu yang terus berulang.

G30S bukan cuma soal keruntuhan PKI. Ini salah satu misteri besar yang menyelimuti perjalanan sejarah bangsa Indonesia, dan sampai sekarang pemerintah memilih tetap mengubur tragedi itu ketimbang menguak kebenaran atasnya.

Gelap masih menggayut di langit Lubang Buaya. (gil/agk)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK