Dia mengatakan, penyiksaan tujuh pahlawan revolusi merupakan fakta sejarah sebagaimana gambaran diorama yang dipajang di Museum Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
"Jangan ada lagi pembelokan sejarah. Jangan ada lagi pemutabalikkan fakta. Tidak boleh. Kita tidak boleh mengandai-andai. Itulah kejadian nyatanya seperti itu," kata Mulyono di depan Museum Pengkhianatan PKI, Lubang Buaya, Jumat (30/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Visum menyatakan tak ada luka sayatan pada kelamin para korban, seperti diberitakan berbagai media pasca-Gerakan 30 September.
“Kami periksa benar itu, dan saya berani berkata itu benar. Itu faktanya,” kata Arif.
Begitu pula dengan pemberitaan yang menyebutkan para jenderal dicongkel matanya sebelum dibunuh. Arif menyatakan memang benar ada bola mata korban yang copot. Tapi, menurutnya, itu karena korban sudah lebih dari tiga hari terendam dalam sumur di Lubang Buaya.
“Bukan karena dicongkel paksa. Saya sampai periksa dengan saksama tepi mata dan tulang-tulang sekitar kelopak mata, apakah ada tulang yang tergores. Ternyata tidak ditemukan,” ujar Arif.
Meski begitu, kata dia, mayat para jenderal korban G30S memang disiksa dan ditembaki. Namun laporan tentang penis dipotong dan bola mata dicungkil adalah berlebihan.
"Semua sudah kami lakukan, semua sudah ada," tegasnya.
"Kita tidak boleh tertipu dengan kegiatan-kegiatan yang apakah itu berbentuk kamuflase, pemutarbalikkan fakta dan sebagainya. Itu tidak boleh," ujar Mulyono.
Malam ini, TNI AD menggelar kegiatan tahlilan dan pemanjatan doa di Lubang Buaya. Kegiatan tahunan ini rutin digelar tiap 30 September untuk mengenang jasa para pahlawan, sekaligus untuk mengingat sejarah kelam bangsa Indonesia.
"Ini merupakan pembelajaran sejarah bagi generasi muda bahwa 51 tahun lalu terjadi G30S/PKI. Kita tidak boleh melupakan itu," ujar Mulyono.
Besok pagi akan diadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang rencananya akan dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.