"Yang kita butuhkan ketentraman. Berisik selama ini," kata Ridwan dalam diskusi pilkada di Jakarta, Sabtu (1/10).
Hal ini, dikatakan Ridwan, bukan hanya soal gaya komunikasi politik. Dia juga mempersoalkan proses pembangunan yang dilakukan di Jakarta selama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan, kata Ridwan, bisa dilanjutkan di masa kepemimpinan yang akan datang. Namun, hal ini mesti dilakukan tanpa menimbulkan kegaduhan.
Sementara itu, anggota tim pemenangan Ahok-Djarot, Masinton Pasaribu, mengatakan calon gubernur yang diusungnya itu akan membuat perubahan.
"Tentu apa yang jadi kritik masyarakat sebagai bentuk yang harus diubah, bentuk komunikasi yang tadi dibilang cerewet harus diubah," kata Masinton.
Dia mengatakan partai politik adalah penghubung pemimpin dengan masyarakat. Karena itu, dia memastikan suara masyarakat seperti yang disampaikan Ridwan akan disampaikan, begitu pula sebaliknya.
"Tentu masalah gaya memang kita juga tidak bisa menafikan bahwa dalam sebuah keluarga juga gaya masing-masing anak berbeda-beda," kata Masinton.
Pencitraan Tak Henti
Melihat persoalan ini, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Situ Zuhro mengatakan kepala daerah seharusnya bisa menciptakan situasi yang kondusif di pemerintahan.
"Kepala daerah ketika masuk birokrasi politiknya harus selesai dan harus menghormati DPRD sebagai mitra, unsur dan mitra pemda," kata Siti.
Dia mengatakan ketegasan yang selama ini ditunjukkan Ahok memang tidak salah. Namun, kepala daerah seharusnya bisa menghindari kegaduhan.
"Yang terjadi adalah pola relasi tidak harmonis, hiruk-pikuk, tidak damai, karena pencitraan yang tidak henti," ujarnya. (rel)