Mencuri start, saling sindir, hingga propaganda dan kampanye hitam terselubung di antara para pendukung tiga pasangan calon sepertinya bakal menjadi hal buruk yang sulit dihindari. Gejala yang akan mengarah pada situasi yang tidak kondusif itu tak hanya dilakukan oleh salah satu satu pasangan calon.
Baik pendukung kandidat petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, maupun para pendukung dua pasangan calon lainnya yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, semuanya berpotensi bakal banyak melancarkan politik “kotor” demi mencapai tujuan masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saling serang atau menjatuhkan tak hanya terjadi di pusaran pendukung para calon. Kandidat yang bakal bertarung biasanya —baik secara sadar maupun tidak—juga terjebak dalam pernyataan-pernyataan yang bersifat menyudutkan, merendahkan atau menjelekkan, minimal menyindir.
Peran Badan Pengawas Pemilu di sini memang sangat vital untuk mencegah maupun menindak setiap terjadinya pelanggaran agar seluruh rangkaian Pilkada Jakarta. Segala cara yang bisa dihalalkan oleh para pendukung masing-masing kandidat harus benar-benar diawasi sekaligus diantisipasi.
Syamsuddin menyatakan, ”Bawaslu sebagai lembaga yang menilai dan mengawasi.”
Syamsuddin mengingatkan, ajang pilkada bukan untuk memilih agama, suku, atau asal usul, tapi untuk memilih pemimpin yang bisa membawa Jakarta lebih baik.
Peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI itu juga menekankan pentingnya adu konsep atau program di antara masing-masing pasangan calon. Tentunya, gagasan dan program tersebut harus riil, tak hanya janji muluk belaka.
Dengan kondisi masyarakat ibu kota yang sudah pandai dalam memilah dan memilih calon, segala macam bentuk kampanye hitam yang terselubung diyakini tak mudah begitu saja mencapai sasaran.
Alih-alih meraih simpati atau tambahan suara seperti yang diincar, segala macam propaganda atau kampanye hitam terselubung malah bisa menjadi bumerang bagi si penyerang.
(rdk)