Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, alat sensor itu sebelumnya dipasang lautan pasir yang masuk wilayah Desa Ngadisari, Probolinggo.
Sutopo menduga, alat sensor itu sudah hilang sejak 18 September lalu. Peristiwa itu disebutnya ganjil karena alat sensor tersebut disimpan di dalam kotak beton berukuran 1,5x2 meter yang terkunci dan dilindungi pagar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo menyatakan, tingkat ketelitian pemantauan Bromo menjadi berkurang dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Sementara itu, hingga Kamis kemarin, PVMBG masih merekomendasikan aktivitas terbatas wisatawan dan penduduk setempat di sekitar Bromo.
Masyarakat dilarang memasuki kawasan dalam radius 2,5 kilometer dari kawah Bromo. Aktivitas di lautan pasir Bromo pun terlarang.
Meski aktivitas vulkanik Bromo terus terjadi, penerbangan di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang, tetap normal. Sebelumnya, aktivitas di bandara itu dialihkan ke Bandara Juanda, Sidoarjo.