Ahok, sapaan Basuki, hanya memberikan sambutan saat deklarasi. Pada sambutan itu, Ahok mengisinya dengan canda tawa soal hubungan dia dengan Ketua Umum PPP Muktamar Jakarta, Djan Faridz, yang diakuinya sudah berlangsung lama.
Usai menyampaikan sambutan, ketika akan diwawancarai oleh awak media, Ahok yang semula berdiri di sebelah kanan Djarot Saiful Hidayat, spontan berpindah tempat untuk memberikan posisi strategis pada Djarot. Panggung politik pun menjadi milik sang wakil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di belakang Djarot, Ahok hanya melempar senyum dan sedikit bercanda dengan para ajudannya. Ia tak sedikitpun mengambil alih "panggung" yang diserahkannya Djarot.
"Tangannya Pak Djan ini dingin loh," kata Djarot, lantas tertawa.
Baca juga:Akhir Celoteh Politik Ahok |
Bukan sekali saja Djarot tampil di panggung politik untuk Pilkada DKI 2017. Beberapa kali, ia mengikuti acara deklarasi dukungan relawan Djarot tanpa ditemani oleh Ahok.
Pada 5 Oktober misalnya, Djarot menghadiri deklarasi dari relawan yang menamakan diri mereka sebagai Dulure Djarot. Kelompok relawan ini terdiri dari pedagang kaki lima, tukang potong rambut, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga.
Meski kelompok relawan itu menamakan diri dalam bahasa Jawa, Djarot mengatakan dukungan terhadapnya berasal dari semua suku yang ada di Jakarta.
"Dulure itu punya arti saudara. Maknanya juga lebih dalam. Yang namanya saudara itu seiya-sekata, saudara senasib, sependeritaan. Senang bersama, susah bersama dalam suka dan duka," katanya saat itu.
Tak sebatas deklarasi, Djarot bersama Dulure Djarot pun mengadakan aksi tanam pohon di taman depan Balai Kota, Minggu pagi (16/10). Aksi tersebut menurut Djarot sebagai bentuk peduli lingkungan.
Usai melakukan aksi tanam pohon di Balai Kota DKI Jakarta, malam harinya Djarot menyambangi Kampung Teluk Gong, Jakarta Utara.
Teluk Gong menjadi kawasan deklarasi relawan dari elemen lain untuk Djarot. Kelompok relawan yang satu ini menamakan diri mereka Jaringan Kemandirian Nasional Basuki Djarot (Jaman Ba-Dja).
Deklarasi ramai diikuti warga setempat dan anak-anak. Canda tawa dengan campura bahasa Jawa terjadi antara warga dengan Djarot --politikus PDIP yang pernah memimpin Blitar, kota di Jawa Timur, selama dua periode.
Saat itu deklarasi dilakukan dengan memukul kentungan siskamling. Ini sesuai program Djarot mendukung dijalankannya lagi aktivitas sistem keamanan linglungan alias siskamling yang kini redup.
Djarot tak lupa berpesan kepada warga Teluk Gong untuk menjaga situasi politik dan kampanye pilkada. Pesan-pesan itu disambut penuh semangat oleh warga.
Nama Djarot makin melambung.
Pascainsiden itu, Ahok dikecam luas. Gelombang protes terus datang. Bukan hanya dari warga ibu kota dan lawan-lawan politik Ahok di Jakarta, tapi juga dari kalangan internal pendukung duet Ahok-Djarot.
Posisi Ahok yang tersudut membuat Djarot harus tampil ke muka. Dia diharapkan kembali menarik dukungan suara sekaligus dapat meredam emosi masyarakat.
Peran Djarot tak bisa diremehkan. Ahok kian membutuhkan wakilnya itu, dan kerja sama serta strategi keduanya menghadapi Pilkada DKI Jakarta kian terlihat.