Berdasarkan informasi yang dihimpun, relokasi tahap dua memang belum bisa terlaksana. Selain pemerintah belum menemukan lahan relokasi, pertanggungjawaban relokasi tahap sebelumnya juga belum beres.
Usai demonstrasi kemarin, forum Musyarawah Pimpinan Daerah langsung menggelar rapat koordinasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pejabat pembuat komitmen relokasi akan tetap mencairkan dana hibah untuk pengungsi sesuai dengan mekanisme yang sudah ditentukan.
Desa di kaki Gunung Sinabung merupakan daerah subur yang selama ini menjadi lahan pertanian masyarakat. (REUTERS/Beawiharta) |
Namun, warga Desa Siosar dan Desa Lingga menolak rencana pemerintah menjadikan daerah mereka menjadi lokasi relokasi.
Akhir Juli lalu, unjuk rasa penduduk Desa Lingga di kantor Polres Tanah Karo menelan satu korban jiwa bernama Andi Purba. Kemarin, persoalan relokasi kembali menelan korban. Pengungsi berusia 65 tahun bernama Sartono Sembiring meninggal saat berunjuk rasa di kantor Bupati Karo.
"Dugaan sementara korban terkena serangan jantung atau darah tinggi sehingga mendadak pingsan," tulis Natanail dalam notulensinya.
"Sesampainya di Rumah Sakit Umum Ester Kabanjahe, warga tersebut dinyatakan meninggal dunia," kata Rina.
Kepolisan merilis keterangan, unjuk rasa itu muncul lantaran pengungsi mendesak pemerintah segera mencairkan dana relokasi tahap dua.
"BPBD Karo belum bisa mencairkan dana tersebut sehingga menimbulkan kemarahan warga. Sempat terjadi saling dorong antara warga dengan personel Satpol PP," ucapnya.
Jumlah pengungsi yang akan direlokasi ke Tanah Karo berjumlah 1.903 kepala keluarga. Untuk relokasi mandiri, pemerintah pusat akan mengalokasikan dana sebesar Rp190,6 miliar.
Mengutip Presiden Joko Widodo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sempat mengatakan akhir 2016 korban erupsi Sinabung harus sudah meninggalkan pengungsian dan tinggal di lahan relokasi.
"Diharapkan semua pihak bekerja sama untuk memikirkan kehidupan para pengungsi selanjutnya khususnya menyangkut kesejahteraan mereka," ujar Teten di Siosar, pertengahan Juli lalu.
Desa di kaki Gunung Sinabung merupakan daerah subur yang selama ini menjadi lahan pertanian masyarakat. (REUTERS/Beawiharta)