Konservasi Gajah Sumatera Diresmikan di Aceh Barat

Abraham Utama , CNN Indonesia | Selasa, 25/10/2016 06:00 WIB
Konservasi Gajah Sumatera Diresmikan di Aceh Barat Aparat kepolisian mengamati bangkai gajah Sumatera di kawasan hutan Banda Alam, Keude Gerobak, Aceh, Oktober 2015. Polisi setempat menyebut, aksi perburuan gajah Sumatera terus terjadi sementara populasi gajah sumatera di Aceh tersisa sekitar 300 ekor. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kabupaten Aceh Barat meresmikan Pos Pusat Konservasi Gajah atau Conservation Response Unit (CRU), Senin (24/10). Konservasi ini diharapkan dapat menjadi penengah konflik antara gajah dan warga lokal.

Bupati Aceh Barat Teuku Alaidinsyah mengatakan, pertikaian antara manusia dan gajah memang kerap di daerahnya. Warga merasa gajah sering merusak lahan pertanian. Akibatnya, pembunuhan terhadap gajah marak terjadi.

"Banyak petani di wilayah pedalaman Aceh Barat yang mengeluh kehancuran tanaman akibat dirusak atau dimakan gajah. Kondisi serupa juga dihadapi perusahaan perkebunan sawit," ujarnya di Meulaboh, seperti dilansir Antara.
Alaidinsyah menuturkan, gajah sering masuk ke pemukiman penduduk. Warga pun merasa terancam. Di sisi lain, pembunuhan gajah terjadi bukan hanya karena perlawanan penduduk, tapi juga dilaterbelakangi motif ekonomi.

Dalam sejumlah kasus, gajah ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan: gading dipatahkan dan dicuri.

Keberadaan CRU, menurut Alaidinsyah, dapat memberikan rasa aman bagi gajah dan penduduk Aceh Barat. Keseimbangan alam pun, kata dia, dapat dilestarikan.
Lebih dari itu, Alaidinsyah mengakui habitat gajah semakin sempit karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan lahan pertanian masyarakat. Padahal, gajah mempunyai daya jelajah yang tinggi.

Ia meminta masyarakat untuk memahami kearifan lokal serta pola hubungan gajah dan warga Aceh yang telah terjalin sejak ratusan tahun silam.

"Kami memang kesal, bahkan marah, saat sumber ekonomi kami dirusak, namun sepatutnya kami juga sadari bahwa gajah juga membutuhkan habitat dan sumber makanan untuk keberlangsungan hidupnya," kata Alaidinsyah.

Seekor gajah sumatera jantan tergeletak mati di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Dwi Kencana Semesta Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, Aceh, Minggu (14/7). Data Balai Koservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menunjukkan 21 ekor gajah Sumatera mati akibat konflik dengan manusia di Aceh pada 2014-2016. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)Seekor gajah sumatera jantan tergeletak mati di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Dwi Kencana Semesta Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, Aceh, 14 Juli lalu. Data BKSDA Aceh menunjukkan, 21 ekor gajah Sumatera mati akibat konflik dengan manusia di Aceh pada 2014-2016. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Awal Oktober lalu, lima gajah masuk ke pemukiman di Desa Sumber Batu, Aceh Barat. Geucik atau kepala desa setempat menyebut gajah-gajah itu merusak berbagai tanaman di kebun warga. Peristiwa serupa juga terjadi Juni dan Mei lalu, di lokasi yang sama.

Kepala Pelaksana BPBD Teuku Syahluna Polem saat itu berkata, beberapa desa di Aceh Barat telah menjadi lintasan gajah sejak lama. Kampung-kampung itu baru berdiri beberapa tahun ke belakang.

"Mulai dari Desa Sumber Batu, Bukit Jaya, Balee, Reudep dan beberapa lain di Kecamatan Meureubo sejak dulu memang gajah sering masuk kesitu. Apalagi saat konflik Aceh disana tidak ada penduduk," ucapnya.
Kekhawatiran atas kepunahan gajah Sumatera (elephas maximus sumatrensis) sebelumnya dikampanyekan aktor Hollywood Leonardo DiCaprio. Maret lalu ia berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser.

Ketika itu, DiCaprio menyatakan, perkebunan sawit mempersempit ruang gerak gajah Sumatera. Satwa itu pun sulit menemukan makanan dan sumber air.

Merujuk arsip Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Aceh, gajah berperan vital pada kejayaan kerajaan-kerajaan di daerah itu sejak abad ke-17.

Sultan Iskandar Muda misalnya, menjadikan gajah sebagai armada perang. Ia membentuk satuan prajurit kaveleri bergajah yang jumlahnya disebut mencapai seribu orang.