Berbeda dengan perhelatan pilkada 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon, di perebutan kursi pucuk pimpinan Jakarta pada Februari 2017 nanti hanya ada tiga pasangan kandidat. Duet Agus Harimurti Yudhoyono-Silviana Murni dengan nomor urut satu, pasangan Basuki Thahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat nomor dua, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno nomor urut tiga.
Nomor urut tersebut memang tidak ada korelasinya sama sekali dengan kemenangan yang bakal diraih oleh calon. Namun bagi sebagian orang —termasuk para kandidat— nomor yang disandang memiliki arti dan makna tersendiri. Keberuntungan, misalnya. Lantas nomor urut berapa yang dianggap dapat membawa hoki, dan juga sebaliknya nomor berapa yang dianggap sebagai pembawa sial atau kutukan?
Lihat juga:Pengundian Nomor Urut Paslon DKI Jakarta |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun Ahok yang mendapat nomor urut dua, mengaku merasa senang karena nomor tersebut bisa diartikan bakal menjabat dua periode. Ahok juga menyebut nomor urut dua akan menguntungkan pihaknya karena berada di tengah. Nomor tersebut menurut Ahok pas dari segi tata letak di kertas pemilihan.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Cecep Hidayat berpendapat bila berbicara nomor urut tak bisa dilepasan dari masalah kebiasaan, dan apa pun nomor itu dimulai dari pojok kiri atas. Bagi Cecep kalau nomor urut hanya sampai tiga maka tidak menjadi masalah. “Secara psikologis tidak akan sukar dalam mendeferensiasi atau membedakan.”
Lihat juga:Semarak Pengundian Nomor Urut Pilkada DKI |
Faktor psikologis bagi sang calon terkait nomor urut, menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris, sebetulnya tidak juga tapi lebih kepada faktor kebetulan. Nomor tertentu yang didapat calon, diakui Syamsuddin memang bisa menimbulkan hal tertentu bagi sang calon.
Sebagai contoh, Ahok dan Djarot yang mendapat nomor urut dua untuk sebagian orang angka tersebut lebih familiar. Angka dua bila diperagakan dengan jari tangan bisa diartikan sebagai salam perdamaian. Dapat juga dimaknai sebagai simbol kemenangan.
Profesor sekaligus peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI itu menduga sebenarnya semua kandidat di pilkada Jakarta menginginkan mendapat nomor urut dua karena mengidentifikasinya relatif lebih mudah. Tapi nomor urut satu pun, menurut Syamsuddin kalau tim suksesnya mampu mengolahnya, bisa juga seperti nomor urut dua. Artinya, bisa mempunyai banyak makna yang positif.
Utak-atik nomor urut untuk mencoba-coba dikaitkan dengan keberuntungan atau kemenangan para calon memang tidak memiliki dasar sama sekali. Sekali lagi, ini memang bukan soal nomor urut tapi lebih pada psikologis para kandidat yang bakal bertarung habis-habisan.
(sur)