Kepolisian Daerah Papua menyebut penyelenggaraan pilkada di sepuluh kabupaten dan satu kota di provinsi itu dengan istilah "tidak ada yang aman".
Kabid Humas Polda Papua Kombes Patrige Renwarin mengatakan, personelnya bersiaga mengantisipasi berbagai bentuk kisruh terkait pilkada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Patrige menuturkan, rawan satu merujuk daerah yang menghadapi bahaya konvensional, seperti unjuk rasa atau pengerusakan fasilitas publik.
"Dari awal memang agak panas. Ada petahana yang digugurkan KPU karena tidak memenuhi persyaratan dan juga pembagian dukungan rekomendasi ke dua pasangan," kata Patrige.
"Personel kami sudah ke sana. Kami sudah dekati tokoh agama. Mereka sudah setuju akan membantu agar tidak ada yang memanfaatkan situasi," ujar Patrige.
Keseluruhan, ada 5.000 personel Polri dan TNI untuk mengamankan seluruh daerah di Papua. Selain itu, petugas Brigadir Mobil dari Markas Besar Polri juga akan diperbantukan.
"Berdasarkan pemetaan intelijen, kerawanan itu ada," ucapnya. Yusri menyebut isu SARA, pergerakan kelompok teror, dan fanatisme pendukung calon kepala daerah dapat memantik keributan di Cimahi dan Tasikmalaya.
Selain itu, polisi juga mengawasi gerak-gerik massa pendukung di dunia maya. Dia mengimbau para calon untuk bersikap secara profesional dan tidak melakukan provokasi yang bisa berujung pada gangguan keamanan. (abm)