Tiga tahun ke depan, total terdapat 20 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu yang akan dibangun di pulau-pulau terluar Indonesia.
Kerja sama ini, ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjastuti, merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Sochi, Rusia, Mei lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Blackspace merupakan perusahaan besar Rusia di sektor energi dan pertambangan yang tengah melebarkan sayap ke industri perikanan.
Kerja sama tak hanya terfokus pada pembangunan 20 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di wilayah terluar Indonesia, tapi juga penguatan sektor perdagangan perikanan Indonesia di Eropa Tengah dan Timur, serta kerja sama maritim dalam memberantas penangkapan ikan ilegal (Illegal Unreported and Unregulated Fishing).
Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Denis Manturov menyatakan kerja sama bilateral ini akan menguntungkan kedua negara. Nantinya, Rusia akan menjadi prioritas utama ekspor perikanan Indonesia, khususnya jenis tongkol, tuna, dan cakalang, yang memang diincar negeri itu.
“Ini adalah strategi win-win solution. Pembangunan infrastruktur ditambah kerja sama penerbangan yang baik, nantinya bisa mengembangkan potensi-potensi di wilayah kecil (Indonesia),” ujar Denis.
Untuk merealisasikan kerja sama itu, Blackspace menjalin kerja sama dengan Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) dengan membentuk perusahaan gabungan atau joint venture.
Dengan model kerja sama ini, Perindo akan memanfaatkan modal yang diberikan Blackspace. Artinya, pembangunan 20 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di Indonesia dibiayai sepenuhnya oleh Rusia.
“Mereka (Blackspace) full finance. Sekarang pembentukan perusahaannya tinggal menunggu persetujuan pemegang saham dari Kementerian BUMN,” kata Direktur Utama Perindo, Syahril Japarin.
Pembagian saham perusahaan dirancang 80 persen milik Rusia dan 20 persen Indonesia. Hal ini telah disepakati oleh kedua negara. (agk)