"Ya, ada sih (infonya), kami siap, kalau bicara Kemhan, ya TNI semua, menteri pertahanan pasti tentara," kata Ryamizard saat ditemui di sela acara pameran alat pertahanan Indo Defence, Jakarta, Rabu (2/11).
Ryamizard menuturkan nalurinya sebagai prajurit tentara selalu mengantisipasi setiap ancaman terhadap keutuhan NKRI. Kelompok mana pun yang berusaha memancing kerusuhan dan memecah belah bangsa menjadi perhatiannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan ada (ISIS) ya ada. Tentara itu memperkirakan segala kemungkinan, sedikit pun dia harus dianalisa, kalau enggak terjadi enggak apa, kalau terjadi kami siap," katanya.
Namun dia mengimbau agar aksi dilakukan secara tertib dan damai. Para peserta aksi yang melakukan perusakan akan ditindak tegas oleh aparat keamanan.
"Kalau terjadi (keributan) kelompok itu adalah musuh negara," katanya.
Pengamat terorisme Sidney Jones juga menyampaikan pendapat yang sama. Dia menduga ada pihak lain di belakang aksi 4 November yang siap menyokong dana.
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict ini mengaku mendapat informasi bahwa aksi 4 November akan diperkuat dengan keterlibatan ISIS. Sidney mengatakan, pelaku aksi diperintahkan untuk bisa memanfaatkan 4 November untuk membuat kerusuhan.
Pantauan Densus 88
Di sisi lain, Polisi belum melihat potensi kelompok radikal seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ikut membonceng pada aksi unjuk 4 November.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan, polisi lewat Detasemen Khusus 88 Antiteror akan terus memantau dan mengambil langkah tegas apabil ada pihak yang ingin memanfaatkan aksi unjuk rasa itu untuk melakukan aksi teror.
"Polri akan menindak tegas pihak yang memanfaatkan situasi unjuk rasa damai untuk kepentingan teror," kata Boy di Markas Besar Polri, Rabu (2/11).
Menurutnya meski bertugas mengantisipasi ancaman terorisme, namun dalam demo 4 November Densus 88 tidak akan diikutsertakan.
"Kami mengedepankan upaya-upaya persuasif, preventif," katanya.
(wis/sur)