Di tengah kondisi seperti ini, gerobak penjual sate Padang diburu oleh para pengunjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Selatan. Setidaknya di depan pintu masuk parkir IRTI Monas terdapat tiga pedagang sate Padang yang berjualan berdampingan, yang kibasan kipasnya menimbulkan kepulan asap putih beraroma sedap yang menyerang indera penciuman para demonstran.
Yanto (32) merupakan salah satu pedagang diantaranya. Pria tersebut tak takut sate yang dijualnya tak laku karena banyak pesaing. Yanto optimis dagangannya akan habis karena jumlah pengunjuk rasa yang mencapai ribuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yanto yang jualannya masih tersisa, justru dibantu Deden (26) penjual sate di sebelahnya. Sate milik Deden sudah lebih dahulu habis. Deden membawa 150 ketupat dengan 800 tusuk sate. Jumlah itu lebih banyak dari biasanya yang hanya 90 ketupat dan 500 tusuk sate.
“Sudah punya rencana dari kemarin-kemarin, tahu akan ada demo," ujar Yanto.
Yanto dan Deden rutin berjualan saat ada demonstrasi. Termasuk pada aksi demo serupa yang dilancarkan bulan lalu, dengan jumlah massa yang lebih sedikit.
"Iya untung, tapi memang capek, tapi hasilnya lumayan jadi capeknya tidak terasa," ujar Deden yang biasa berjualan di depan Gereja Kathedral.
Deden menjelaskan saat unjuk rasa, pembeli datang secara sekaligus dan tak henti-henti. Saat demonstrasi yang melibatkan ratusan sampai ribuan massa, dagangan bisa ludes dalam waktu empat jam saja. Sementara, di hari biasa butuh waktu tujuh jam berjualan dan kerap tak habis di ujung hari.
Ketika berjualan Deden juga tak takut dengan suasana demo yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi anarkis. Menurutnya, dia tak bakal menjadi objek yang diserang.
“Tidak lah ngapain takut, saya kan cuma pedagang," ucap Deden.