Ryamizard berkata, pada lokasi yang sama, penculikan pekerja kapal sudah terjadi berulang kali.
“Itu orang enggak disiplin saja, sudah beberapa kali ada kejadian kok masih saja enggak peka. Enggak bisa dong mengawasi satu per satu orang di laut,” ujarnya di Jakarta, Selasa malam kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Indonesia yang baru bebas dari kelompok penyandera Somalia menunjukkan raut wajah gembira. Mereka menghirup udara bebeas setelah empat tahun disekap. AFP PHOTO / STRINGER |
“Sudah saya ingatkan agar berhati-hati. Kalau di sana tempat sandera, ya jangan ke situ. Itu kan tempat penyanderaan. Kalau masih ke sana juga, ya terjadilah. Saya menyesalkan itu,” katanya.
Ryamizard mengatakan, selama ini kerja sama trilateral di bidang pertahanan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina berjalan baik. Meskipun pada kenyataannya kasus penyanderaan kembali terjadi.
Retno meminta Malaysia menjamin keselamatan sekitar enam ribu WNI yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan Malaysia. Permintaan itu juga pernah diutarakannya sebelum Ahad kemarin.
Dua pejabat Sabah itu berkata, pengamanan terhadap perairan mereka memang perlu ditingkatkan. Mereka akan mewajibkan pemilik kapal memasang automatic identification system.
Tak hanya itu, mereka juga berjanji mensosialisasikan langkah pengamanan pelayaran kepada perusahaan dan anak buah kapal.
Selain itu, mereka juga akan membangun mekanisme tanggap darurat yang lebih baik dan membuat titik aman di sejumlah pulau kecil di sekitar perairan Sabah.
Warga Indonesia yang baru bebas dari kelompok penyandera Somalia menunjukkan raut wajah gembira. Mereka menghirup udara bebeas setelah empat tahun disekap. AFP PHOTO / STRINGER