Dua warga negara Indonesia yang bekerja di kapal penangkap ikan Malaysia kembali diculik pada 5 November lalu. Peristiwa itu terjadi di perairan Sabah, Malaysia.
Ryamizard mengaku dongkol dengan penyanderaan yang terus berulang. Menurutnya, penyanderaan di lokasi itu telah terjadi tiga kali. Pemerintah Indonesia juga telah memperingatkan kepada warganya agar tidak berlayar di wilayah tersebut. Dia pun curiga ada persekongkolan jahat di balik kasus ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira tidak ada satu pemerintah pun yang melakukan pembiaran. Tapi yang penting adalah bagaimana untuk meningkatkan keamanan," kata Retno usai rapat koordinasi tingkat menteri di Kemenko Polhukam.
Senin lalu, Retno bertemu dengan Menteri Besar Sabah, Dato Musa Aman yang didampingi Komandan Eastern Sabah Security Command (Esscom) Mayjen Wan Abdul Bari di Kota Kinabalu Negeri Sabah.
Pada kesempatan itu, Retno meminta Pemerintah Malaysia memberikan jaminan keselamatan bagi sekitar 6.000 WNI yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan Malaysia. Permintaan itu juga pernah diutarakan sebelum kejadian 5 November lalu.
Retno juga telah bertemu dengan pemilik kapal yang armadanya disandera. Pihak penyandera sempat berkomunikasi dengan pemilik kapal terkait kasus itu. Retno mengatakan selama ini pemerintah RI terus berkomunikasi dengan keluarga sandera dan pemilik kapal.
"Saya sudah bertemu juga dengan para istri kedua ABK kita," katanya.
Retno menyebut lokasi kedua sandera berada di Sulu, Filipina. Informasi intelijen itu diperoleh dari koleganya di Filipina sehari setelah penculikan. "Itu sudah menjadi pattern yang biasa dilakukan kelompok itu," ujar Retno.
Meski demikian Retno belum bisa menyebut kelompok mana yang melakukan penculikan dua ABK Indonesia. Pemerintah RI hingga kini belum dapat berkomunikasi dengan kelompok penyandera.
"Saya belum dapat memberikan konfirmasi identitas kelompok itu. Tapi berdasarkan informasi intelijen yang saya peroleh mereka berdua berada di Sulu," katanya.
Kasus penyanderaan ini menambah jumlah korban sebelumnya yang belum kembali ke Indonesia hingga kini. Total korban penyanderaan saat ini ada empat WNI yang masih disandera di Filipina.
"Kami masih terus bekerja untuk bagaimana membebaskan mereka," ujar Retno.
(gil/gen)