"Untuk mencapai target operasional kereta pada Februari 2019, diperlukan segera penyelesaian pembebasan lahan pada Desember 2016," kata Direktur Utama PT MRT William Sabandar di Jakarta, Selasa (15/11).
William menuturkan, Pemprov belum membebaskan 281 lahan dari total 632 bidang tanah yang akan terdampak proyek MRT. Kendala itu menyebabkan pengerjaan jalur layang MRT yang membentang dari Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja baru mencapai 40,53 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
William mengatakan, dari 281 lahan yang masih bersengketa, 127 di antaranya vital bagi proyek MRT. Lahan itu antara lain berada di Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, dan Blok A.
"Kalau bisa diselesaikan secara konsensus, ya dibayar. Tapi kalau enggak bisa, kami konsinyasi secepat mungkin," kata Soni.
Proyek fase kedua rencananya menghubungkan koridor Bundaran HI hingga Ancol. Pengerjaan fase itu kini dalam masih dalam tahap persiapan.
Depo yang semula direncanakan di Kampung Bandan dipindahkan ke Ancol Timur karena lahan tak bisa digunakan. Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama sebelumnya sudah bersurat ke Kepala Bappenas untuk menjadikan Ancol Timur sebagai depo fase kedua. (abm/asa)