Ribuan personel gabungan itu berasal dari Polda Jawa Barat, Polres Majalengka, TNI dan Satpol PP, diketahui ikut mengawal proses pengukuran lahan yang akan digunakan untuk pembangunan BIJB. Petani Desa Sukamulya sendiri diketahui menolak upaya pembangunan bandara internasional tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Masih ada penembakan gas air mata, posisi saat ini petani tersebar,” kata Untung yang berada di lokasi pengukuran lahan tersebut di Desa Sukamulya, Kamis (17/11).
Desa Sukamulya terletak di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka memiliki luas sekitar 735 hektare. Kawasan itu menjadi salah satu area yang akan digunakan untuk lahan BIJB sekitar 1.800 hektare.
Pada Agustus, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Majalengka Darmanto menuturkan pelaksanaan inventarisasi tanah itu dilakukan pada 9 Agustus. Tanah yang akan diukur di desa itu mencapai 382 bidang.
Terkait dengan penembakan gas air mata itu, CNNIndonesia mengkonfirmasi Kapolres Majalengka Ajun Komisaris Besar Mada Rostanto, namun panggilan itu tak direspons. Pesan pendek yang dikirimkan pun belum dibalas.
Dikelola BUMD
Bandara itu akan dikelola PT BIJB, satu BUMD yang dibentuk pada 2013 lalu. Tak hanya bandara, perusahaan itu juga akan membuat Aerocity yang diperkirakan dibangun di atas lahan 3.200 hektare.
Dalam situs resminya, PT BIJB menyatakan bandara itu diproyeksikan awalnya untuk mengangkut sekitar 5 juta penumpang per tahun. Pembangunan itu sendiri dibagi tiga fase, dan tahap pertama adalah beroperasinya landasan pacu 3.500 meter pada 2017.
(asa)