"Bom Bali itu bahannya masih low explosive. Kalau ini, TNT bisa 2,5 kali kekuatan bom Bali 2002 atau 2005. RDX bisa 3, 2 kali kekuatan bom Bali," kata seorang petugas laboratorium forensik yang identitasnya dirahasiakan, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (25/11).
Kepolisian menemuikan RDX (research deparment formula X) dan TNT (trinitrotoluena) ketika menggeledah rumah Rio. Polri menyebut Rio mampu membuat bahan-bahan peledak di laboratorium yang dia buat sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada waktunya, sasarannya kompleks DPR/MPR, Mabes Polri, Mako Brimob, kedutaan besar, tempat ibadah, kafe dan stasiun televisi," ujarnya.
Rio, 24 tahun, ditangkap di Majalengka, Rabu pekan ini. Rikwanto berkata, Rio pernah menimba ilmu pertanian di salah satu perguruan tinggi, namun tidak tamat.
Pada saat itulah, kata Rikwanto, Rio mempelajari ilmu kimia. Rio mengaplikasikan ilmunya setelah mengenal paham radikal.
"Yang bersangkutan teradikalisasi secara aktif dengan membaca buku dan artikel Aman Abdurahman tentang thoghut dan sebagainya," kata Rikwanto.
Lihat juga:Para Residivis Penebar Teror |
"Yang bersangkutan mencoba membuat ramuan kimia yang bisa dijadikan bom. Tinggal ditambah paku dan gotri, bisa mengakibatkan dampak yang dahsyat," kata Rikwanto.
Sementara itu, dana dia dapatkan dari warga Indonesia yang berada di luar negeri, yakni di Arab Saudi, Taiwan dan Filippina. "Mereka bekerja sebagai TKI di negara-negara tersebut," ujar Rikwanto.