Dari segi jumlah, peserta aksi ini tidak kalah dari aksi yang dilakukan pada 4 November lalu. Saat konferensi pers kemarin, GNPF MUI bahkan mengklaim aksi diikuti kurang lebih dua juta orang. Diketahui, kapasitas kawasan Monas sendiri dapat menampung sekitar 600-700 ribu orang.
Namun jumlah peserta yang terbilang cukup banyak itu tak menjadi jaminan pendapatan bagi pedagang minuman dan makanan ringan. Hari ini, mereka mengaku pendapatannya jauh berkurang jika dibandingkan dengan aksi 4 November.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peserta aksi di jalan itu dapat dikatakan ramai. Dua ruas jalan dan trotoar itu dipadati peserta aksi. Namun jarang sekali dari mereka yang menghampiri Fandi untuk membeli minum.
"Mereka enggak beli minum karena banyak minum gratis. Enggak banyak yang beli, tapi saya tetap dagang," kata Fandi.
Kondisinya berbeda dengan aksi 4 November lalu. Saat itu, kata Fandi, dagangannya laris habis terjual pada sekitar pukul 13:00.
"Tetapi habis tidak habis saya tetap jualan sampai acara ini selesai. Kalau sudah waktunya pulang, saya pulang," ujarnya.
Fandi bukan satu-satunya pedagang yang tidak mendapat banyak untung. Penjual makanan tahu gejrot, Didin Amninudin juga tak terlalu mendapat banyak untung.
Ia mengaku sudah berjualan sejak pukul 06:00 di Jalan Medan Merdeka Selatan. Makanan khas sumedang itu seperti tidak laku. Kurang lebih hanya 30 orang yang membeli makanan itu sampai pukul 13:00.
"Terasa banget hari ini enggak se-menguntungkan aksi 411 kemarin. Ya, namanya juga dagang memang enggak selalu laku banyak sih," kata Didin.
Salah satu peserta Aksi Bela Islam III Rahmat Arifin mengatakan, dirinya tidak tertarik untuk jajan karena banyak makanan dan minuman gratis. Selain itu, ia menilai makanan dan minuman yang dibagikan gratis, lebih terjamin kebersihannya.
"Ya kan gratis, enggak ada salahnya diterima," kata Rahmat.