Sebelum bergabung dengan KPK, Febri merupakan aktivis antikorupsi bersama Indonesia Corruption Watch (ICW). Latar belakang Febri tersebut yang menurut Direktur Eksekutif Charta Politika harus dijaga.
“Pelantikan Febri menjadi beban ICW dan KPK juga. Karena kedekatan KPK dengan LSM antikorupsi, terutama ICW setelah Febri masuk, bukan tidak mungkin gosip-goisp dan terpaan fitnah terus muncul,” kata Yunarto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambah lagi, posisi Jubir KPK sangat strategis.
“Jangan-jangan malah KPK yang mendapat bocoran informasi dari ICW,” kata Agus kepada CNNIndonesia.com.
Agus membenarkan kemungkinan Febri mendapat fitnah lantaran posisinya yang kini sangat strategis. Apalagi corruptor fight back pasti ada dan dapat menyerang siapa saja jika ada pihak yang merasa dirugikan oleh tindakan lembaga antikorupsi itu.
“Tetapi itu semua adalah risiko pekerjaan. Kalau kita berkomitmen pada kebenaran, memang pasti ada saja yang tidak menyukai. Febri nanti harus tetap mengatakan kebenaran walau pun itu pahit,” tuturnya.
Pernyataan yang sama disampaikan oleh Firdaus Ilyas, Koordinator Divisi Riset ICW. Firdaus menyebut, secara mental Febri telah ditempa berbagai persoalan selama di ICW maupun tiga tahun di KPK.
“Saya yakin dia sudah siap mental dengan risiko apapun, termasuk corruptor fight back,” kata Firdaus.
Sebelum menjabat Jubir KPK, Febri ditugaskan di fungsional Direktorat Gratifikasi. Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, pengangkatan Hendri diharapkan mampu meningkatkan kinerja KPK dalam menyampaikan informasi kepada publik.
"Mudah-mudahan dengan ditempatkannya saudara di posisi ini menambah kinerja KPK," ujar Agus di Kantor KPK, Jakarta, Selasa (6/12). (rdk)