Pelaku sebagian besar kasus bom bunuh diri di Indonesia merupakan pria yang menjadi anggota jaringan terorisme. Namun, dalam kasus bom Bekasi lalu, calon pelaku berjenis kelamin perempuan.
Meski bukan yang pertama kalinya perempuan menjadi 'calon pengantin' di Indonesia, ini bisa menjadi tanda bahwa jaringan terorisme mulai menarget kaum hawa sebagai pelaku bom bunuh diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dian diketahui akan meledakkan diri di salah satu objek vital negara di Jakarta.
Tak hanya itu, Dian juga bertugas mencari kontrakan dengan Nur Solihin di daerah Bekasi, membuat surat wasiat untuk orangtuanya, dan berkomunikasi intensif dengan warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok teror ISIS di Suriah, Bahrun Naim.
"Ia juga menerima uang dari BN sebesar Rp1 juta melalui NS untuk hidup sehari-hari di kontrakannya di Bekasi," ujar Awi.
"Karena pada intinya mereka mencari orang-orang yang mau berjihad atau amaliyah. Jadi jenis kelamin tidak menutup kemungkinan bisa laki-laki atau perempuan," katanya.
Karenanya, Awi meminta masyarakat agar tetap waspada dan cermat dalam menyikapi adanya kelompok-kelompok yang ditengarai menyebarkan paham radikalisme. Hal itu agar jaringan terorisme tidak sampai berkembang di Indonesia.
Bahrun Naim, yang juga disebut dalang bom Thamrin pada Januari 2016, menganjurkan amaliyah atau seruan yang memerintahkan orang untuk berjuang di kampung halamannya atau negaranya masing-masing, jika belum mampu berjuang di Syria.
Semantara itu, kepada CNNIndonesia.com, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sekaligus pengamat terorisme Ansyaad Mbai menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri berjenis kelamin perempuan sebenarnya bukan sesuatu yang baru, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
"Di Indonesia itu memang untuk bom bunuh diri dulu yang pelakunya perempuan itu bukan sesuatu yang baru. Saya kurang ingat kapan tepatnya, tapi dulu pun sudah pernah ada dan digagalkan," katanya.