"Dari pengakuan saksi kami, tweet itu beredar di medsos dan diviralkan, isinya jelas meresahkan karena kontennya bermuatan provokatif dan kebencian terhadap etnis tertentu," kata Ketua Kotak BADJA, Muanas Alaidid kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/14) malam.
Akun @AndiArief_AA yang dimiliki Andi, diduga membuat cuitan menyinggung Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Andi diduga menulisnya di Twitter pada tanggal 2 Desember lalu, bertepatan dengan aksi 212 menentang Ahok. Saat ini tweet itu sudah tidak ada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Muanas, cuitan Andi dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA.
Atas laporan Kotak Badja ke Polda Metro Jaya, Andi berkomentar di Twitter. Dia menyatakan tidak pernah menulis cuitan tersebut. Bahkan Andi berniat melaporkan balik pihak yang telah melaporkan dirinya.
"Si memed mabok berat, kelakuan edit mengedit, membuat tweet palsu," cuitnya kemarin.
Menanggapi hal itu, Muanas tak gentar dengan rencana laporan balik oleh Andi Arief. Menurutnya, laporan itu adalah hak setiap warga negara dijamin undang-undang.
"Tapi menurut hukum sayangnya laporan balik itu bakal ditangguhkan sampai dibuktikan terlebih dahulu benar tidaknya laporan kami selanjutnya diproses sampai dengan perkaranya berkekuatan hukum tetap," kata Muanas.
Menurut Muanas, pihak yang terjerat kasus hukum biasa menggunakan alasan tweet yang diedit pihak lain, maupun mengklaim tidak pernah membuat cuitan yang bermasalah.
"Sebelum kami laporkan, kami sudah periksa dengan teliti dan hasilnya temuan yang kami kumpulkan tweet itu bukan palsu tapi diduga telah dihapus, sayangnya Google masih mengindeks tweet-nya dan jelas ini mudah untuk dibuktikan dengan menelusuri jejak digitalnya pemilik akun," jelas Muanas. (pmg/yul)