Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo menjelaskan, beberapa waktu terakhir Indonesia diselubungi berbagai permasalahan seperti maraknya isu berbau unsur Suku, Ras, Agama, dan Antar Golongan (SARA), korupsi, hingga masalah kemiskinan yang makin memprihatinkan. Ia bahkan mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana angka kemiskinan per Maret 2016 mencapai 28,01 juta jiwa.
"Adanya hal tersebut membuat persaudaraan sebagai warga negara Indonesia itu diguncang-guncang. Dengan alasan SARA dan lainnya, ini sangat membahayakan bangsa. Kuncinya adalah amalkan sila ke-dua Pancasila, yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab," ujar Ignatius Suharyo di kompleks Gereja Katedral, Jakarta, pada Minggu (25/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkesimpulan bahwa peristiwa yang membuat Indonesia kurang kondusif belakangan ini tidak mencerminkan cita-cita yang diharapkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Ia berharap umat Kristiani dan masyarakat Indonesia tidak terpancing dengan adu domba, dan berpegang teguh terhadap sila ke-dua Pancasila.
Mengingat krusialnya sila ke-dua ini, Keuskupan Agung Jakarta memilih sila ke-dua Pancasila sebagai pesan Natal di tahun 2016. Pada tahun-tahun mendatang, lanjut Suharyo, Pancasila akan menjadi tema besar perayaan Natal di Keuskupan Agung Jakarta.
"Kami ingin merenungi dan memahami Pancasila. Setelah itu, kami refleksikan ke perayaan Natal. Karena Keuskupan Agung Jakarta perlu terlibat di dalam pewartaan konteks sosial, politik, dan agama di Indonesia," jelasnya.
Selain itu, ia juga meminta peran lebih dari negara untuk ikut serta di dalam menciptakan kemanusiaan yang adil, di mana setiap ras, suku, dan pemeluk agama berhak mendapatkan rasa aman di Indonesia. Di dalam konteks tersebut, ia pun mengapresiasi kunjungan Menteri Dalam Negeri, Kepala Polisi Republik Indonesia, dan Panglima Kodam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam memantau seluruh gereja di Indonesia menjelang hari Natal.
"Ini membuktikan bahwa negara hadir untuk memberikan rasa aman kepada umat kristiani dalam melaksanakan ibadah Natal. Karena terkadang, kami dengar bahwa negara tak hadir di dalam berbagai titik kritis di dalam peristiwa yang terjadi di negeri ini," terangnya.