Emi (41), istri Bibih, memilih hijrah ke Jakarta untuk menjadi pekerja rumah tangga. Dia membawa anak perempuannya, Santi (22). Mereka meninggalkan Bibih yang memilih setia di kampung halaman, Sukabumi.
Hari itu, Sabtu (24/12), Emi bercengkerama dengan obrolan seadanya. Menceritakan pekerjaan dan kegiatannya selama bekerja di rumah majikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah itu tak lain tempat Emi bekerja dan menetap bersama anaknya, Santi.
Lihat juga:Polisi Ungkap Motif Pembunuhan di Pulomas |
Bibih tak menyangka malapetaka menimpa perempuan yang telah membina rumah tangga dengannya selama 25 tahun itu. Dia mengatakan komunikasi Emi dengan keluarganya di Sukabumi selama ini lancar.
"Selama kami komunikasi, istri saya tidak pernah bercerita soal adanya kejadian yang aneh-aneh di rumah itu seperti pertengkaran," kata Bibih usai menjenguk Emi di RS Kartika Pulomas.
Bibih masih bisa menjenguk Emi dan Santi karena istri dan anak sulungnya itu menjadi dua dari lima korban selamat peristiwa penyekapan. Tak ada luka berarti dari tubuh mereka.
"Hanya kalau ibu Emi, ada memar-memar di bagian betis," ujar Wawan, kerabat Bibih yang ikut menjenguk ke rumah sakit. Dia mengatakan, baik Emi maupun Santi kini sudah bisa berbicara dengan lancar.
Emi dan Santi menjadi dua dari lima korban selamat pembunuhan sadis di Pulomas, Jakarta Timur. Ketiga korban selamat lainnya adalah Zanette Kslila Azaria, Fitriani dan Windy yang juga dirawat di RS Kartika Pulomas.
Sedangkan enam korban tewas dalam peristiwa tersebut adalah Dodi Triono, dua putri Dodi, seorang teman putri Dodi dan dua orang sopir keluarga.
Dodi dan kedua putrinya telah dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Sedangkan teman putri korban yang bernama Amel dikebumikan di Bekasi. Sementara kedua sopir keluarga Dodi akan dimakamkan di kampung halamannya masing-masing.