Sekjen KPA Dewi Kartika mengatakan sektor perkebunan menempati urutan pertama yang menyumbang konflik agraria sepanjang 2016. Dari 1,26 juta hektare lahan konflik, sektor tersebut menyumbang sebesar 601.680 hektare.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini meningkat drastis di tahun 2016, dua kali lipat ada peningkatan dengan jumlah 450 konflik agraria. Artinya, rata-rata satu hari terjadi satu konflik,” Dewi memaparkan saat konferensi pers, Kamis (5/1).
Kekerasan Kolektif
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Maksum Machfoedz mengatakan dirinya mengkhawatirkan ada kekerasan kolektif ketika konflik agraria tak terselesaikan. Dia menilai konflik yang tercatat itu hanyalah konflik yang telah muncul di permukaan.
“Konflik agraria yang tercatat itu, itu hanya konflik yang sudah muncul di permukaan,” kata Maksum dalam acara tersebut.
Senada, Alamsyah Saragih, anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) mengatakan konflik agraria seperti fenomena gunung es. Ombudsman sendiri mencatat dugaan maladministrasi di sektor pertanahan, dengan faktor terbesar adalah pelayanan berlarut.
Ia mencontohkan pengajuan pembuatan sertifikat yang seharusnya dapat diproses selama dua atau tiga bulan, tetapi justru mencapai waktu hingga tahunan. Alamsyah menyatakan Badan Pertanahan Nasional (BPN) selama ini adalah lembaga yang paling sering dilaporkan ke ORI.
“Laporan tersebut berkaitan dengan Hak Guna Usaha yang telah habis,” kata Alamsyah. (rel)