Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, telah berkoordinasi dengan kepala daerah asal para terduga teroris terkait dengan rencana pemulangan tersebut. Ia berharap, para kepala daerah bisa menjemput langsung para terduga teroris di shelter Kemensos di kawasan Bambu Apus, Jakarta.
“Hasil koordinasi dengan Densus 88 adalah kami sangat berharap Bupati dan Wali Kota tempat mereka (terduga teroris) berasal, akan berkenan menjemput,” ujar Khofifah di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia menuturkan, 52 orang yang diamankan di shelter Kemensos tediri dari 25 orang dewasa dan 27 anak-anak. Mereka, kata dia, telah mendapatkan pemulihan sosial agar tidak trauma dan merasa terasingkan saat kembali ke lingkungannya.
Dari 52 orang itu, termasuk atas nama Triyono, yang pernah bekerja di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) namun saat ini sudah mundur dari Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia diduga akan bergabung dengan ISIS.
Berpendidikan Tinggi
Khofifah menyatakan, hasil identifikasi menunjukkan bahwa para terduga teroris tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang baik. la berkata, ada terduga teroris yang berasai dari universitas dalam negeri ternama dan luar negeri.
"Strata pendidikan mereka (para terduga teroris) ada yang dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Makassar, S1 dua orang dari Universitas Brawijaya, dan ada yang magisternya dari Australia," ujarnya.
Ia berkata, bergabungnya orang berlatar belakang pendidikan tinggi ke dalam kelompok radikal disebabkan oleh minimnya pemahaman akan nilai-nilai Pancasila. la menyebut, Pancasila harus dipahami secara menyeluruh, bukan hanya pada salah satu sila saja.
Dihapuskannya mata kuliah Pancasila juga menjadi andil di balik bergabungnya para mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi ke dalam kelompok-kelompok radikal. Menurutnya, mata kuliah Pancasila seharusnya terus menerus dipelajari agar bisa menjadi pertahanan diri atas ideologi menyimpang yang marak berkembang.
“Kalau memang tidak harus secara spesifik ada mata kuliah Pancasila, maka ruh dari nilai Pancasila terintegrasi dengan mata kuliah lain,” ujarnya. (wis/yul)