Laporan ini untuk merespons kesepakatan antara Kemenko Polhukam dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang memilih proses rekonsiliasi dalam menyelesaikan perkara pelanggaran HAM berat.
Kebijakan rekonsiliasi yang ditetapkan Menko Polhukam dan Komnas HAM dianggap dapat menimbulkan banyak kerugian bagi korban karena tidak didasarkan pada pemenuhan hak korban akan keadilan dan pemulihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini aneh. Tugas Menko itu mengoordinasikan kementerian-kementerian yang ada di bawahnya. Jaksa Agung ada di bawahnya (Kemenko Polhukam). Kenapa dia enggak meminta Jaksa Agung untuk kerja, tapi malah membuat mekanisme baru (yaitu rekonsiliasi)?" ujar Haris, saat ditemui di Gedung Ombudsman Republik Indonesia, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/2).
Dia menilai kebijakan yang ditetapkan Kemenko Polhukam dengan Komnas HAM pada Senin (30/1) lalu sebagai upaya melepas tanggung jawab negara dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM atas dirinya di masa lalu.
"Wiranto jelas adalah salah seorang aktor yang berkepentingan dalam kasus ini," kata Yati.
Sejumlah aktivis melakukan aksi 'Kamisan' di depan Istana Merdeka, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Anak Anda dibunuh, tanpa Anda tahu siapa yang membunuh, lalu Anda diminta untuk memaafkan," kata Yati.
Maria Katarina Sumarsih, orang tua Benardinus Realino Norma Irawan yang menjadi korban Tragedi Semanggi I, ikut melaporkan Wiranto ke Ombudsman. Dia mengatakan, pihak keluarga korban pelanggaran HAM keberatan dengan keputusan Wiranto.
"Jangan beri cap saya orang yang dendam dan tidak mau memaafkan. Saya ingin mewujudkan apa yang diperjuangkan Wawan bersama kawan-kawannya, soal agenda reformasi, soal tegaknya supremasi hukum," katanya.
Di tempat terpisah, Wiranto menanggapi enteng pengaduan para aktivis HAM terhadap dirinya. Dia menilai penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu dengan cara nonyudisial, untuk mencegah munculnya masalah baru.
"Mau dilaporkan ke mana saja silakan," kata Wiranto di Jakarta. (pmg/yul)
Sejumlah aktivis melakukan aksi 'Kamisan' di depan Istana Merdeka, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)