"Yang pasti dalam minggu tenang tidak diizinkan pengerahan massa di ruang publik. Kalau dilakukan akan ditindak tegas," kata Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (6/2).
Masa tenang akan berlangsung pada 11-14 Februari mendatang. Wiranto mengajak seluruh masyarakat, tokoh agama dan intelektual untuk ikut menjaga situasi agar tetap tenang. Sebab menurutnya, pelaksanaan pilkada serentak bakal menjadi sorotan dunia internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami lakukan checking terakhir sebelum masuk dalam minggu tenang agar pelaksanaan pilkada di semua daerah, terutama DKI, aman, tertib, dan sukses," katanya.
Wiranto usai rapat dengan sejumlah pejabat untuk membahas proses pengamanan Pilkada. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati) |
Pada kesempatan yang sama, Wakapolda Metro Jaya Brigadir Jenderal Sutana juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pengerahan massa selama masa tenang jelang pilkada. Menurutnya, kegiatan politik terkait pilkada dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan.
"Ada aturannya, kalau minggu tenang itu jelas enggak boleh, apapun bentuk kegiatan politik tidak boleh, kumpul massa tidak boleh," katanya.
Juru Bicara FPI Slamet Ma'arif mengatakan, aksi 112 itu mengusung pesan agar umat Islam tidak memilih pemimpin kepala daerah yang beragama nonmuslim. Dia berdalih, larangan itu telah dijelaskan dalam Alquran.
"Kami mengingatkan umat Islam untuk memilih pemimpin muslim, haram memilih pemimpin kafir, melaksanakan ajaran alquran, intinya penguatan Al-Maidah ayat 51," ujarnya. (pmg/sur)
Wiranto usai rapat dengan sejumlah pejabat untuk membahas proses pengamanan Pilkada. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)