Siti dan Mayani dievakuasi oleh petugas dari kediaman mereka di RT 05 dan RT 07, Cipinang Melayu, Selasa (21/2) kemarin. Mayani dan Siti sempat bertahan dua jam di lantai dua rumah mereka saat banjir menyerbu. Banjir yang tak kunjung reda membuat mereka mengambil keputusan meminta pertolongan.
"Saya menangis dan berteriak kepada petugas, mereka pun datang menjemput saya. Saya lapar sekali," kata Mayani kepada CNNindonesia.com, Selasa (21/2).
Lihat juga:'Kalau Air Seleher, Kami Baru Geser' |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas dapur umum di posko pengungsi banjir. (CNN Indonesia/Marcelinus Gual) |
Beberapa orang perempuan terlihat sibuk mengemas makan malam. Sementara itu, ratusan bungkus makanan jadi baru saja turun dari sebuah truk pick up.
Ratna mengatakan logistik makanan sangat cukup untuk korban pengungsian. "Di sini makan tiga kali sehari. Intinya kami tidak kekurangan sejauh ini," cerita Ratna.
Untuk sekali makan, kelompok ibu-ibu ini menghabiskan delapan liter beras. Lauk yang disediakan terbatas pada telur dan mie instan.
Ratna mengatakan makanan jadi berupa masakan Padang diberikan korban banjir, apabila datang bantuan dari donatur. "Bantuan itu datang silih berganti. Sejak Kamis lalu sudah ada bantuan," kata dia.
Sebagai posko terbesar di kawasan Cipinang Melayu, posko masjid Universitas Borobudur menjadi pusat penerimaan bantuan. Para relawan juga mengirimkan bantuan kepada warga yang masih bertahan di rumah.
Bantuan di antaranya datang dari warga yang tak terkena banjir yang masih tinggal di kawasan Cipinang Melayu. Lia Basliah (46), misalnya warga RT 06 RW 02 ini membantu menyediakan makanan dan minuman.
Ratna dan Lia bertugas menyiapkan sayur dan lauk. Keduanya terlihat akrab satu sama lain. Sembari berbalas guyonan, tangan keduanya cekatan memindahkan telur dan mie ke dalam bungkusan nasi.
"Biar warga tidak lapar sampai air benar-benar surut," kata Ratna. (wis/yul)
Aktivitas dapur umum di posko pengungsi banjir. (CNN Indonesia/Marcelinus Gual)