"Aliran politik apapun itu tidak mengganggu orang untuk disalati. Yang penting orang itu muslim betul," kata Nasaruddin di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (13/3).
Nasaruddin mengingatkan aturan salat jenazah terkait dengan pemasangan berbagai spanduk provokatif yang menyatakan penolakan menyalatkan jenazah bagi pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Beberapa spanduk di antaranya dipasang di kawasan Karet, Setiabudi, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada yang tidak bersedia karena alasan tertentu silakan saja. Kan pasti ada umat Islam lain, paling tidak keluarga terdekat," tutur Din.
Imbauan ini disampaikan karena dirinya bukan dalam posisi memberikan sanksi kepada masjid yang menolak memandikan jenazah.
"Kemampuan saya adalah mengimbau semua pihak bagaimana Pilkada tidak dikotori, tidak dicemari hal-hal justru menimbulkan konflik dengan alasan agama," ucap Lukman.
“Kalau orang itu masuk surga atau tidak biar Allah yang menentukan, jangan kita. Kita hormati apapun pendapat orang,” ujarnya.
Pemerintah provinsi DKI Jakarta telah mencopot 147 spanduk provokatif larangan menyalatkan jenazah yang beredar di lima wilayah Jakarta. Pencopotan itu hasil kerjasama antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan warga sekitar.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono curiga spanduk provokatif berisi larangan menyalatkan jenazah bagi pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang beredar di Jakarta dipasang kelompok tertentu untuk kepentingan politik.