Pernyataan itu disampaikan oleh Tito menyoroti kabar penculikan anak untuk diambil organ tubuh bagian dalam di wilayah pulau Sumatera.
"Jadi mungkin ada pihak ketiga yang sengaja menaikkan isu-isu negatif ini untuk menimbulkan keresahan. Apalagi ada masa Pilkada untuk menakuti masyarakat, mendeklinasi (melemahkan) wibawa Pemerintah," kata Tito.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepanjang pengecekan saya dengan kepala Polda yang ada berita itu semuanya menjawab kepada saya tidak ada. Artinya beritanya hoax," ucapnya.
Bahkan, di beberapa daerah di Pulau Sumatera Utara seperti Kota Dumai dan Kota Medan terjadi kepanikan orang tua terkait kabar ini.
Seorang ibu rumah tangga di Dumai, Wahyuni, mengaku saat ini sangat mengawasi ketat dua putrinya yang masih balita bermain karena khawatir dengan ancaman penculikan tersebut.
"Maraknya isu anak diculik di media sosial dengan pelaku menyamar jadi penjual, pura pura gila dan lainnya buat kita kuatir, dan anak bermain harus diawasi ketat," kata Wahyuni seperti dibseritakan Antara.
"Kalau berhalangan, saya pesankan ke guru bahwa pamannya akan menjemput pulang sekolah dan nomor kontak juga sudah ditinggalkan agar aman dan saling komunikasi," kata Wati.
Hoax punya pengaruh terhadap konstelasi politik di ajang Pilkada. Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Rully Akbar sebelumnya menyebut hoax atau berita palsu bisa memengaruhi elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada DKI Jakarta.
"Bisa jadi (hoax) memengaruhi elektabilitas calon. Dinamika politik di Jakarta sangat rentan, tidak bisa diprediksi," ujar Rully di Kantor LSI Denny JA, Selasa (21/3).
Menurut Rully, saat ini media sosial menjadi alat paling efektif untuk meningkatkan atau menurunkan elektabilitas pasangan calon. Apalagi, lanjutnya, para pengguna media sosial masih bisa melemparkan pernyataan atau isi-isu selama masa tenang pilkada.