Di hadapan sejumlah ibu dan kepala keluarga, Jokowi menyampaikan setiap keluarga menerima Rp1,89 juta setiap tahun yang dapat diambil empat kali.
Ia pun mulai mengetes pengetahuan ibu-ibu di Barus mengenai kegunaan anggaran Keluarga Harapan. "Kalau diambil Rp200 ribu, suami minta Rp100 ribu boleh enggak? Suami minta untuk beli rokok boleh enggak?" tanya Jokowi kepada mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masa suami minta buat beli rokok enggak boleh? Katanya cinta, diberikan enggak?" ucap mantan Wali Kota Solo ini.
"Beri tahu 'Pak, enggak boleh karena ini untuk gizi anak'. Kalau diberi justru tak cinta sama bapaknya, karena untuk beli rokok yang tidak beri kesehatan bagi tubuh kita," tutur Jokowi.
Program Keluarga Harapan merupakan perlindungan sosial melalui pemberian uang tunai kepada keluarga sangat miskin yakni untuk pendidikan dan kesehatan. Kementerian Sosial menyatakan pihaknya sudah menjangkau sekitar 6 juta keluarga pada pertengahan tahun lalu. Pada 2016, dana yang disiapkan adalah Rp10 triliun.
Secara terpisah, permasalahan rokok ini memang menjadi pembahasan pemerintah beberapa waktu lalu. Hal ini berkaitan dengan pengajuan Rancangan Undang-Undang Pertembakauan atas inisiatif DPR.
Presiden telah mengirimkan surat presiden penunjukkan sejumlah menteri untuk menjadi perwakilan pemerintah membahas RUU Pertembakauan di DPR. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, sikap presiden terhadap permasalahan tembakau sama seperti yang disampaikan dalam ratas.