"Kami jadi tersangka, enggak semua orang mau komunikasi sama kami. Jadi orang yang masih berkomunikasi, kami ajak bisnis," kata Hatta usai menghadiri panggilan Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (3/4).
Bisnis yang digeluti Hatta adalah menjual hasil tenun dari kampung halamannya, Nusa Tenggara Barat. Dia bercita-cita mempopulerkan tenun hingga ke tingkat internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini, dia sudah delapan kali menghadiri pemanggilan dengan status wajib lapor seminggu sekali.
"Saya kira bukan ini saat untuk ngomong. Belum momennya untuk ngomong macam-macam," tuturnya.
Di sisi lain, dia mengatakan komunikasinya dengan tersangka makar Rachmawati Soekarnoputri berjalan lancar. "Sesama orang yang kena kasus masih. Insya Allah, kami baik-baik silaturahmi. Ini cara saya," kata anak angkat Jenderal Besar (TNI) Abdul Haris Nasution ini.
Soal kritik kepada rezim yang berkuasa, Hatta juga menyampaikan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia beberapa kali menyampaikan kritik terbuka melalui tulisan-tulisannya.
Pada 2014 misalnya. Dia mengirim surat terbuka kepada MPR/DPR untuk memanggil SBY atas dugaan tidak transparan tentang utang yang masih ditanggung negara.
Bersama Komite Nasional Penyelamat Rakyat (KN-KPR), dia juga pernah mendorong sidang istimewa untuk menurunkan SBY dari jabatannya.
"Saya ikuti aja. Kalau dibilang lapor ya saya lapor," katanya.