Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, retakan di perbukitan yang terbentuk pada 11 Maret 2017, terus melebar sehingga terjadi longsor pada 1 April lalu. Dari mahkota, longsor meluncur menghantam dinding bukit di depannya.
"Ada perbedaan morfologi menyebabkan material longsor berbelok ke arah kiri meluncur dan menerjang permukiman mengikuti lereng. Jarak antara mahkota longsor dengan titik terakhir landaan longsor sekitar 2 kilometer, lebar landaan 200 meter, dan tebal longsor 20 meter. Ini salah satu yang menyebabkan sulit mencari korban tertimbun longsor,” Sutopo menjelaskan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Korban Longsor Ponorogo Akan Direlokasi |
Hasil pemetaan dan survai menunjukkan, jenis longsor di Ponorogo adalah longsor translasi. Yaitu yang disebabkan oleh pergerakan massa tanah dan bebatuan yang terdapat di bidang gelincir berbentuk rata.
Korban yang baru ditemukan berada di sektor C pukul 14.10 WIB atas nama Sunadi (47). Sutopo mengatakan, berarti tiga orang korban meninggal dunia telah ditemukan yaitu Katemi (70), Iwan Danang Suwandi (30) dan Sunadi (47).
Di antara 25 orang masih hilang tertimbun longsor, ada bocah berusia tiga dan lima tahun, sementara yang lainnya di rentang usia 17 hingga 60 tahun.
Lihat juga:Tanah Longsor Hantam Kota Reog |
Selain itu, lanjut Sutopo, Tim SAR juga terkendala luasnya lokasi landaan longsor, keterbatasan peralatan, serta komunikasi dan potensi longsor susulan.
Personel yang terlibat dalam penanganan bencana tanah longsor ini melibatkan 1.640 orang, antara lain TNI 200, Polri 200, Basarnas 45, BPBD 100, Tagana 100, Pemkab dan Tim kesehatan 600, relawan 350, serta Perhutani 45 orang.
Sementara itu, penanganan pengungsi masih terus dilakukan. Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Ponorogo, ada 178 pengungsi yang tersebar di rumah-rumah penduduk.