Direktur PT Java Trade Utama Johanes Richard Tanjaya menyampaikan hal itu saat menjadi saksi untuk dua terdakwa perkara e-KTP, Irman dan Sugiharto dalam persidangan e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (20/4).
Menurut Johanes, dirinya mengetahui Andi sebagai orang yang bisa melobi anggota DPR dari Irman. Ketika itu, kata Johanes, Irman meminta dirinya seperti Andi yang bisa melobi anggota dewan untuk menggolkan anggaran e-KTP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johanes merupakan ketua Tim Fatmawati yang dibentuk Andi untuk mengatur proyek e-KTP. Dia mengaku sering berkomunikasi dengan Andi, mengenai persiapan proyek yang ditengarai merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun.
"Saya sama Andi tidak pernah bahas. Saya prinsip menyelesaikan sistem. Saya merancang sistem yang bagus," kata Johanes.
Bahkan, Johanes mengaku tak pernah menerima upah dari Andi atas kerja-kerjanya mempersiapkan proyek e-KTP. Johanes menyebut dirinya hanya menerima satu unit mobil dari Andi, namun mobil tersebut sudah diserahkan kepada KPK.
"Saya pernah terima mobil, saya balikkan ke KPK," kata Johanes.
Andi bersama Novanto mengatur proyek ini agar lolos dengan menggandeng mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin. Mereka disebut yang mengatur pembagian uang proyek bancakan ini.
Keempatnya bersepakat bahwa anggaran e-KTP sebesar Rp5,9 triliun setelah dipotong pajak sebesar 11,5 persen, 51 persennya atau Rp2,6 triliun digunakan untuk belanja modal atau belanja rill pembiayaan proyek.
Pejabat Kemendagri, termasuk Irman dan Sugiharto mendapat jatah 7 persen atau sejumlah Rp365,4 miliar, anggota Komisi II DPR sebesar 5 persen atau Rp261 miliar.
Kemudian Andi dan Setya dapat sebesar 11 persen atau Rp574,2 miliar. Sementara itu, Anas dan Nazaruddin sebesar 11 persen atau Rp574,2 miliar. Selanjutnya, sebesar 15 persen atau sejumlah Rp783 miliar dibagikan kepada pelaksana pekerjaan atau rekanan.
Andi sendiri disebut-sebut mempunyai hubungan dekat dengan Setya. Bahkan, Andi pernah ikut makan siang bersama Fraksi Golkar di DPR. Namun, Setya membantah mengenal dekat sosok Andi. Menurut Setya, dirinya kenal Andi sebatas bisnis kaos partai.