Matahari Jakarta di siang bolong terasa terik. Terlebih Amira saat itu berada di kawasan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara yang bertepian langsung dengan laut.
Setelah rumah besarnya digusur April tahun lalu, kini Amira dan lima orang anggota keluarganya harus berhimpitan tinggal di bangunan triplek berukuran 3x4 meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhirnya karena tidak punya biaya, dua anak saya tidak lulus SMP," kata Amira.
Deti mencuci baju di balik bedeng hunian. Warga Kampung Aquarium, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mengaku belum menerima pemberitahuan terkait akan dilakukannya penertiban bangunan liar di Kampung Aquarium.(CNN Indonesia/Tiara Sutari) |
"Dulu suami saya sehat, kerja jadi pegawai angkut di galangan kapal, sekarang jalan saja susah. Jadi saya saja yang cari uang," kata dia.
"Kalau dibilang cukup, ya enggak cukup. Kehidupan saya sudah beda dengan yang dulu," kata dia.
Amira mengaku tak sudi dipindah ke rumah susun yang ditawarkan oleh Pemprov DKI kepada warga korban penggusuran di Kampung Akuarium. Dia masih tak terima digusur dengan cara yang dia anggap tak manusiawi.
Lebih-lebih, Amira mendapat kabar warga Kampung Aquarium diwajibkan membayar uang air dan uang listrik dengan tarif terbilang mahal saat dipindah ke Rumah Susun di Merunda dan Rawa Bebek.
"Bayar Rp500 ribu (di rusun) kami habis digusur, mana ada uang," kata dia.
Deti (kanan) saat bersantai di bedeng huniannya. (CNN Indonesia/Tiara Sutari) |
"Anak saya mau berangkat sekolah, ada Brimob, Polisi, mobil beko berjejer di depan, anak saya langsung jerit-jerit dia takut akhirnya sampai sekarang lihat polisi dia pasti nangis," kata Deti.
Setelah rumahnya digusur, Deti tetap bertahan. Dia memilih tetap menjaga tanah bekas bangunan rumahnya pasca penggusuran.
"Dua hari kemudian saya dan suami bangun lagi (rumah) pake tripleks seadanya. Itu sudah lama. Bukan baru tiga minggu kita bangun," kata Deti.
Amira dan Deti adalah cuplikan potret dari ratusan Ibu rumah tangga korban penggusuran yang memilih bertahan di Kampung Akuarium.
Lihat juga:Melihat Jakarta Tanpa 'Penggusuran' Ahok |
Genap satu tahun tinggal di atas lahan gusuran, warga Kampung Akuarium yang bertahan di kawasan ini kembali mendengar kabar tak sedap terkait relokasi ulang yang dicetuskan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.
Ahok menyebut dalam waktu dekat, pihak Pemprov akan segera 'menyapu bersih' bangun liar yang berdiri di lahan gusuran Pasar Ikan, Kampung Akuarium. Pemprov DKI berencana mengembalikan fungsi kawasan di sana sebagai areal cagar budaya.
"Kami menunggu belas kasih mereka sajalah. Kami sudah jatuh miskin, dililit hutang, terus tidak punya rumah, sekarang mau digusur lagi. Kami tunggu saja hati nurani pemerintah," kata Deti.
Deti mencuci baju di balik bedeng hunian. Warga Kampung Aquarium, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mengaku belum menerima pemberitahuan terkait akan dilakukannya penertiban bangunan liar di Kampung Aquarium.(CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Deti (kanan) saat bersantai di bedeng huniannya. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)