Ribuan bencana itu masuk dalam kategori bencana hidrometeorologi atau bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca seperti banjir, longsor, dan puting beliung.
"Dampak bencana yang ditimbulkan telah menyebabkan 166 jiwa meninggal dan hilang, 313 jiwa luka-luka, dan 1.036.362 jiwa menderita dan mengungsi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bencana tersebut telah menurunkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terdampak. "Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun hilang begitu saja terkena bencana. Apalagi sebagian besar bencana terjadi di pedesaan dengan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," ujar Sutopo.
Lihat juga:Tanah Longsor Hantam Kota Reog |
Hujan dengan intensitas tinggi tersebut disinyalir sebagai akibat dari perubahan iklim global. Sementara degradasi lingkungan dan lahan kritis yang luas menyebabkan daerah makin rentan terjadi bencana.
Korban jiwa akibat bencana sangat mungkin bertambah mengingat masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
BNPB mencatat sekitar 64 juta jiwa masyarakat Indonesia terpapar dari bahaya banjir sedang hingga tinggi, sedangkan 41 juta jiwa terpapar oleh bahaya longsor sedang hingga tinggi.
Selain kewaspadaan masyarakat, Sutopo juga menekankan pentingnya kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB). Kegiatan tersebut, menurut Sutopo, merupakan investasi pembangunan yang bertujuan mengurangi kerugian akibat bencana.
"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa setiap 1 US$ yang digunakan untuk PRB dapat mengurangi kerugian akibat bencana sekitar 7-40 US$. Pencegahan bencana lebih efektif dan efisien daripada penanganan darurat bencana karena bencana dengan dampaknya sudah terjadi ketika tidak ada pencegahan," kata Sutopo.