Sejak sore, pengunjuk rasa mulai memadati area aksi. Para peserta aksi umumnya masyarakat kelas menengah, tampak dari mobil mereka yang diparkir di sekitar lokasi. Jajaran aparat kepolisian dan mobil water canon juga telah bersiaga.
Aksi kali ini memang bukan yang pertama. Bahkan, di akhir pekan mereka lebih memilih kembali hadir untuk menyampaikan aspirasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihannya untuk selalu ikut dalam setiap unjuk rasa, kata Johan, tidak akan berpengaruh kepada pekerjaannya. Ia tetap profesional antara urusan pekerjaan dan mengawal putusan Ahok.
Johan menuturkan, dirinya tetap akan setia meluangkan waktu mengawal dan ikut pada setiap aksi, sampai nantinya ada kebijakan terkait vonis tersebut. Misalnya, dikabulkannya penangguhan penahanan sampai Ahok diputuskan bebas.
"Harus terus dilakukan, sampai dikabulkan. Udah cukup diam, karena banyak penjahat di dalamnya," ucapnya.
Sejumlah pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyalakan lilin saat melakukan aksi di depan Tugu Proklamasi, Jakarta (13/5). (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi) |
Para peserta aksi umumnya memperoleh informasi mengenai aksi dari pesan berantai WhatsApp. Tak terkecuali Jefri. "Ya kami kan ada group WA, tahu infonya dari sana," ujar pria yang kesehariannya bekerja di sebuah perusahaan ternama.
Selain mendukung pembebasan Ahok, panitia penyelenggara aksi juga menuntut empat poin. Pertama, mereka meminta agar pemerintah segera membubarkan organisasi massa yang membawa label Islam tetapi radikal. Beberapa di antaranya Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dianggap bertentangan dengan Pancasila.
"Saya seorang muslim, tapi saya tidak ingin Islam jadi alat pemecah belah," kata Bane, salah satu panitia aksi.
Ketiga, mereka meminta pemerintah menyingkirkan seluruh elite politik yang dianggap terlibat dalam kisruh ini. Terakhir, massa juga menuntut pembubaran partai yang selama ini menggunakan isu SARA sebagai alat politik.
"Bubarkan saja, saya lebih (mengarah) ke nasional tidak cuma hanya Ahok," kata dia.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, acara berlangsung selepas magrib. Masing-masing peserta menggenggam lilin yang menyala, sembari bernyanyi mengikuti alunan musik di depan gerbang Tugu Proklamasi. Mereka menyanyikan lagu nasional hingga ciptaan sendiri terkait kasus Ahok.
Acara berlangsung tidak begitu lama, memasuki pukul 19.00 WIB mereka mulai bersiap untuk meninggalkan lokasi dengan pengawalan polisi.
"Semua yang hadir dari berbagai golongan, semua agama. Pebisnis, pekerja kantoran semua ada," kata Bane.
Sejumlah pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyalakan lilin saat melakukan aksi di depan Tugu Proklamasi, Jakarta (13/5). (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)