Target itu ditetapkan karena bus ekspres hanya berhenti di dua halte saja dari total 12 halte yang berada di sepanjang koridor XIII. Kedua halte yang menjadi titik pemberhentian adalah Halte CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) dan Velbak.
"Kalau begitu terkejar lah Ciledug-Tendean 10 menit," kata Direktur Bidang Operasional PT Transjakarta Daud Joseph, Senin (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Halte CSW bakal ramai dengan penumpang karena terintegrasi dengan Koridor I (Blok M-Kota). Apalagi, dalam waktu dua tahun mendatang halte ini akan jadi salah satu halte Transjakarta yang langsung terintegrasi dengan halte Mass Rapid Transit Jakarta.
Jalur layang koridor XIII TransJakarta rute Ciledug-Tendean. (CNN Indonesia/Filani Olyvia) |
"Dengan sistem tap in dan tap out sebenarnya kan bisa dibaca perjalanan setiap penumpang. Kalau ternyata banyak penumpang 'batu', yang artinya memang naik dari ujung ke ujung (Ciledug-Tendean), bisa jadi 50 persen bus yang beroperasi adalah bus ekspres," kata Joseph.
Berbeda dengan bus ekspres, bus reguler akan berhenti di semua atau 12 halte koridor XIII dan ditargetkan bisa menempuh waktu 20 menit dari Ciledug ke Tendean.
Sopir Senior
Dalam kesempatan yang sama, Joseph mengatakan bahwa PT Transjakarta akan sangat ketat dalam menyeleksi pengemudi atau sopir yang akan mengoperasikan bus Transjakarta di jalan layang nontol koridor XIII. Hanya sopir dengan pengalaman dan jam terbang tinggi saja yang bakal diterjunkan untuk mengendarai bus di rute baru ini.
Hal tersebut, kata Joseph, dilakukan setelah menimbang ketinggian jalan layang non tol koridor XIII. Sebagian besar mencapai ketinggian hingga 20 meter di atas tanah.
Foto: CNN Indonesia/Filani Olyvia |
“Apalagi di ketinggian 23 meter, laju kecepatannya tidak boleh cepat, paling hanya 40 km/jam,” ucap Joseph.
Jalur layang koridor XIII TransJakarta rute Ciledug-Tendean. (CNN Indonesia/Filani Olyvia)
Foto: CNN Indonesia/Filani Olyvia