Selain memakan korban, peristiwa ledakan itu juga membuat panik sejumlah warga yang biasa beraktivitas di sekitar terminal Kampung Melayu. Warga sekitar merasa kejadian tersebut membuat suasana lokasi yang biasanya ramai itu menjadi mencekam.
Erni (53), pedagang asongan yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi ledakan mengaku sangat panik karena ledakan itu. Alasannya, kala itu ia tengah membawa cucu pertamanya yang baru berusia sembilan bulan ke tempatnya biasa berdagang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira ledakan pertama itu adalah ban pecah. Tapi saat ada ledakan kedua dan suaranya keras, saya langsung panik untuk menyelamatkan cucu saya," ujar Erni kepada CNNIndonesia.com di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Kamis (25/5).
Erni berada sekitar 300 meter dari lokasi saat ledakan terjadi. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko) |
"Ledakannya besar sekali sampai tanah bergetar. Mikrolet dan kaca halte Busway juga sampai hancur," ujar Maruli kepada CNNIndonesia.com.
Padahal, sebelum kejadian, ia berkata, suasana terminal berjalan seperti biasa. Banyak orang ilir mudik turun dan berganti kendaraan umum untuk menuju berbagai lokasi. Selain itu, sebelum kejadian juga sempat ada iring-iringan sekelompok remaja melintas di depan terminal sambil membawa obor untuk memperingati bulan Ramadhan.
"Saya suruh istri saya untuk menjauh dari lokasi. Sementara saya tetap berada di lokasi menjaga dagangan," ujarnya.
Lebih dari itu, Maruli mengklaim, tak habis pikir mengapa aksi terorisme dilakukan di terminal Kampung Melayu. Dia menyesalkan peristiwa itu terutama karena banyak orang tak bersalah yang menjadi korban dari aksi tersebut.
Erni berada sekitar 300 meter dari lokasi saat ledakan terjadi. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko)