Hal ini diungkapkan Andi saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (29/5).
"Saya dikenalkan Setya Novanto oleh orang yang datang ke kantor saya. Namanya Herman, tapi saya lupa sebagai apa. Dia bilang partai Golkar sedang butuh atribut kampanye," ujar Andi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pernah antar Paulus Tanos ke kantor Setya Novanto di SCBD?" tanya jaksa Abdul.
Meski demikian, Andi mengaku kerap berkunjung ke gedung DPR untuk menawarkan atribut kampanye pada sejumlah anggota dewan. Ia mengaku hanya bertemu dengan mantan anggota Komisi II DPR Mustokoweni.
"Saya bertemu Ibu Mustokoweni untuk urus atribut pilkada. Tidak pernah yang lain," ujarnya.
Ketua Umum Partai Golkar itu menolak tawaran bisnis karena harga yang ditawarkan Andi dinilai terlalu mahal. Beberapa waktu kemudian, kata Setya, Andi kembali menemuinya untuk menawarkan soal jual-beli kaos.
Setya saat itu juga membantah adanya pertemuan dengan Andi di rumah maupun kantornya di Equity Building, SCBD. Pernyataan ini berbeda dengan keterangan pengusaha Paulus Tanos saat bersaksi dalam persidangan pekan lalu.
Paulus membeberkan pertemuannya dengan Setya yang dilakukan di rumah dan kantor pimpinan Partai Golkar itu di kawasan SCBD, Jakarta, bersama Andi. Dalam pertemuan di kantor Setya, Paulus mengaku hanya mengenalkan diri dan menjelaskan pekerjaannya dalam proyek e-KTP.