Salah satu yang penting untuk direvisi, menurut Adi, adalah yang berkenaan dengan mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan. Menurutnya, jam belajar dua mata kuliah itu saat ini sangat kurang sehingga terkesan hanya sebagai pelengkap.
Adi mengatakan, penambahan jam belajar mata kuliah tentang Pancasila sangat perlu dilakukan. Terlebih, mata pelajaran tentang Pancasila telah dipelajari di jenjang SMP dan SMA, sehingga lebih baik jika kurikulum tentang Pancasila di perguruan tinggi disajikan secara lebih mendalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswa juga perlu diberi tuntutan khusus agar benar-benar memahami nilai-nilai kebhinekaan yang terkandung dalam Pancasila.
Adi mengungkapkan sejauh ini mahasiswa memiliki rasa antusias yang minim saat kuliah Pancasila. Itu terjadi karena tidak ada tuntutan khusus yang dibebankan kepada mahasiswa dalam memahami nilai-nilai Pancasila.Dengan cara-cara itu, kata Adi, paham radikal akan sulit masuk ke dalam pikiran mahasiswa.
Menurut Adi, revisi kurikulum lebih berguna dan berpengaruh ketimbang merevisi proses pemilihan rektor. Menurutnya, meskipun rektor dipilih atas persetujuan presiden, tidak ada yang bisa menjamin paham radikalisme tidak masuk dan berkembang di kampus-kampus.
Namun wacana tersebut diluruskan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir. Kemarin, Nasir membantah pelibatan Presiden dalam memilih rektor perguruan tinggi.