Djarot dan Waktu yang Terlalu Singkat untuk Dikenang

Muhammad Andika Putra , CNN Indonesia | Kamis, 15/06/2017 12:40 WIB
Djarot dan Waktu yang Terlalu Singkat untuk Dikenang Sisa masa jabatan empat bulan dianggap terlalu singkat untuk menunjukkan karya Djarot selama memimpin Jakarta. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Djarot Saiful Hidayat dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta ketiga dalam satu periode 2012-2017. Sisa masa jabatan selama empat bulan ke depan dianggap terlalu singkat bagi Djarot untuk menunjukkan karyanya, tak seperti gubernur sebelumnya.

"Empat bulan terlalu singkat bagi pemimpin untuk dikenang apa karyanya. Dalam situasi transisi seperti ini memang tugas Djarot membuat birokrasi tetap stabil sampai pemimpin baru (menjabat)," kata pengamat politik Universitas Gadjah Mada Erwan Agus Purwanto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/6).

Di awal periode, Joko Widodo memimpin Jakarta dengan gaya blusukan. Dia kerap turun ke masyarakat kelas bawah. Selama dua tahun menjabat gubernur DKI Jakarta, gaya kepemimpinan itu mampu membuat Jokowi dikenang.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kemudian menggantikan posisi Jokowi yang terpilih sebagai Presiden RI ketujuh. Erwan berpendapat, Ahok adalah gubernur yang paling bersinar dalam periode ini, meskipun di akhir masa kepemimpinannya dia terjegal kasus penistaan agama.

Beberapa kali Ahok menunjukkan sikap tegas di tingkat birokrasi. Sejumlah kepala dinas yang dianggap nakal dicopot dari jabatannya. Dia juga memecat PNS yang bermain anggaran pengadaan alat tulis kantor mencapai Rp 500 miliar untuk Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Pedagang kaki lima yang membandel berdagang di trotoar Tanah Abang ditertibkan. Begitu pula bangunan liar yang berdiri di beberapa wilayah juga ikut digusur. Namun kini beberapa kesemrawutan kembali ketika Ahok mundur dari jabatannya.

"Suasana sudah berbeda ketika Ahok dinyatakan bersalah. Birokrasi di Jakarta kentara berubah. Bangunan liar di Kalijodo dan PKL di Tanah Abang. Birokrasi makin kendor dan kurang disipin," kata Erwan.

Erwan mengatakan, peran seorang pemimpin sangat berpengaruh bagi birokrasi dan masyarakat. Djarot dan Ahok memiliki karakter yang berbeda. Ahok dinilai lebih terbuka dibanding Djarot.

Djarot memiliki tantangan berat memimpin DKI. Dalam masa empat bulan, dia harus membuat pemerintahan DKI jauh dari hal negatif. Persoalannya, kata Erwan, Djarot hanya memimpin Jakarta selama empat bulan. Masa transisi pemerintahan sebelum digantikan gubernur terpilih Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno.

"Kalau PNS dan masyarakat tahu pemimpin akan dilantik untuk lima tahun. Berbeda dengan sekarang yang dilantik untuk empat bulan. Empat bulan tidak membuat kepemimpinan beliau efektif karena hanya sebentar, bukan karena jabatan Plt atau gubernur," kata Erwan.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com beberapa hari terakhir, kantor Balai Kota DKI Jakarta tidak seramai ketika dipimpin Ahok. Sistem layanan pengaduan masyarakat kini disediakan sesuai bidang aduannya masing-masing.

Masyarakat yang ingin mengadukan masalahnya tidak perlu lagi menunggu hingga Djarot datang. Mereka bisa langsung mengadukan masalahnya kepada SKPD terkait.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Djarot Pimpin Jakarta