"Kepada Pemerintah Indonesia saya Bachtiar Nasir berpesan agar apa yang belakangan ini disebutkan kegaduhan, sebetulnya saya melihat kepada masalah kesalahpahaman dan miskomunikasi," kata Bachtiar kepada CNNIndonesia.com usai Salat Idul Fitri di Masjid Al-Azhar, Jakarta, Minggu (25/6).
Untuk itu, Bachtiar menyarankan perlu ada dialog yang digelar antara pemerintah dengan pihaknya untuk menyamakan persepsi dan meredakan kesalahpahaman yang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bachtiar menatakan, sebagai bagian dari warga negara Indonesia, GNPF MUI tidak ingin menciptakan kondisi gaduh. "Tentu kami menginginkan kedamaian, persatuan dan menginginkan Indonesia menjadi sebuah negara yang maju, dan menjadi negara yang kuat di dunia ini," katanya.
Ia juga mengingatkan umat Islam agar meningkatkan kualitas ibadah yang telah dilakukan di bulan Ramadan. Hal ini dimanfaatkan dalam membangun bangsa ke depan.
Rekonsiliasi lewat Komnas HAM
Seperti diketahui, Bachtiar merupakan salah satu tokoh yang banyak terlibat dalam Aksi Bela Islam dari Oktober hingga Desember untuk mengawal Fatwa MUI mengenai pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dianggap menodakan agama.
Namun, belakangan Presidium Alumni 212 meminta upaya rekonsiliasi dengan Presiden Joko Widodo. Hal ini disampaikan melalui Komnas HAM hingga akhir Ramadan lalu. Upaya ini ditempuh setelah sejumlah aktivis Islam diduga terjerat persoalan kriminal, tak terkecuali Rizieq Shihab.
Sekretaris Jenderal Presidium Alumni 212 Hasri Harahap mengatakan pihaknya sudah meminta Komnas HAM untuk menyurati Presiden Jokowi terkait keinginan rekonsiliasi atau islah itu. Komnas HAM dipilih karena perannya sebagai lembaga negara. Dia mengatakan selama Ramadan ini sebaiknya kedua belah pihak saling memberikan maaf.