Komisioner Kompolnas Andrea Pulungan, menilai aturan tersebut diskriminatif, karena, Kapolda Jabar menetapkan kuota terhadap putra daerah dengan besaran 51 persen bagi calon taruna Akpol dan 70 persen bagi calon Bintara dan Tamtama.
"Kebijakan ini menimbulkan dampak bagi para calon yang tadinya mempunyai nilai dan rangking memenuhi syarat berdasarkan ketentuan Kapolri dan Panitia Pusat," kata Andrea melalui pesan singkat yang diterima CNNIndonesia, Kamis (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Penjelasan pasal 4 huruf a UU 40/2008 dijelaskan bahwa Pembatasan dalam ketentuan ini, misalnya pembatasan seseorang dari ras atau etnis tertentu untuk memasuki suatu lembaga pendidikan atau untuk menduduki suatu jabatan publik hanya seseorang dari ras atau etnis tertentu.
"Jika kemudian penyidik Bareskrim Polri dapat bertindak cepat, maka jika terpenuhi unsur-unsur dugaan Tindak Pidana beserta alat buktinya, Sanksi pidananya pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta," kata dia.
Menurut Andrea, pembedaan tanpa dasar empiris, filosofis apalagi normatif, hanya akan menimbulkan dugaan tindak pidana diskriminasi.
Sementara, Kabid Humas Polda Jabar Komisaris Besar Yusri Yunus belum dapat memberikan komentar terkait polemik aturan prioritas putra daerah itu.
"Saya belum tahu," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Sebelumnya, dikutip dari Detik.com, beredar video orangtua calon taruna Akpol yang memprotes polisi di Mapolda Jabar.
Orang tua calon siswa Akpol bernama, Nani (47) mempertanyakan kebijakan prioritas putra daerah yang tertuang dalam keputusan Kapolda Jabar Nomor: Kep/702/VI/2017 yang dikeluarkan tanggal 23 Juni 2017.
Dalam keputusan Kapolda tersebut diatur pedoman penerapan persentase kelulusan tingkat panitia daerah bagi putra-putri daerah dalam proses seleksi penerimaan anggota Polri secara terpadu (Akpol, Bintara, Tamtama) TA 2017 Panda Polda Jabar.
"Nah di situ (kebijakan) nonputra daerah diambil hanya 11 orang, padahal nilainya lebih tinggi dari putra daerah. Kami protes, kalau putra daerah itu nilainya tinggi, enggak apa-apa, kami ikhlas, tapi ini di bawah dari (putra) kami," kata Nani.