"Peraturan putra daerah prioritas hanya untuk di Papua," kata Tito di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/7)
Menurutnya, aturan tersebut hanya diterapkan di Papua karena pertimbangan kualitas pendidikan. Tito menuturkan, lambatnya perkembangan pendidikan di sejumlah wilayah Papua dikhawatirkan akan menyulitkan putra/putra daerah untuk bersaing dengan bakal calon taruna Akpol dari daerah lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taruna Akademi Kepolisian berlari sambil membawa senjata pada penutupan Pendidikan Bhayangkara. (Antara Foto/ R.Rekotomo) |
"Istilah local boy, local job, itu banyak berlaku pada bintara, di daerah tertentu perlu polisi yang memahami karakteristik daerah itu, bintara waktu lama di sana. Kalau Akpol ini, mereka calon pemimpin nasional, bisa bertugas di mana saja," tutur Tito.
Kericuhan terkait local boy terjadi setelah beredarnya video orangtua calon taruna Akpol, Nani (47), yang memprotes polisi di Polda Jabar., Video itu viral di media sosial pekan lalu.
Dalam keputusan Kapolda tersebut diatur pedoman penerapan persentase kelulusan tingkat panitia daerah (panda) bagi putra-putri daerah dalam proses seleksi penerimaan anggota Polri secara terpadu (Akpol, Bintara, Tamtama), TA 2017 Panda Polda Jabar.
Dalam keputusan Kapolda Jabar itu, hasil kelulusan sementara sebanyak 35 orang pria dan empat orang wanita dengan kuota 13 orang putra daerah dan 22 orang nonputra daerah. Namun setelah melewati tahap seleksi hanya sebanyak 12 orang putra daerah dan 11 orang nonputra daerah yang diterima.
Menurutnya, kebijakan prioritas putra daerah ini diberitahukan kepada orang tua calon siswa saat pengumuman kelulusan, Rabu (28/6) di Polda Jabar. Ketika itu, orang tua siswa bereaksi keras karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya soal kategorisasi putra daerah dan nonputra daerah.
