"Pluralisme selalu menjadi bagian dari DNA Indonesia," kata Jokowi dalam wawancara khusus dengan Reuters di Istana Kepresidenan di Jakarta, Senin (3/7). "Meski banyak tantangan, Islam di Indonesia selalu menjadi kekuatan moderasi."
Pancasila sebagai dasar negara mencakup persatuan negara, keadilan sosial, demokrasi, keyakinan pada Tuhan yang maha esa sekaligus mengedepankan keberagaman beragama dalam sistem pemerintahan sekuler.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dinilai sebagai orang dekat Jokowi, Ahok akhirnya gagal dipilih kembali sebagai pemimpin DKI Jakarta setelah berbulan-bulan diprotes oleh kelompok garis keras Front Pembela Islam. Dia dikalahkan oleh Anies Baswedan dalam pemilihan kepala daerah yang berlangsung cukup panas.
"Sangat penting di sini, di Indonesia, Amerika Serikat, Eropa, di manapun, untuk melawan politik 'kita atau mereka'," kata Obama di konferensi Diaspora, Sabtu pekan lalu.
Berhati-hati soal Homoseksualitas
Selain masalah tersebut, kelompok Islam garis keras kerap juga memprotes komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
Kecuali Aceh, di mana hukum Islam ditegakkan, homoseksualitas dianggap legal di Indonesia.
Namun, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut homoseksualitas sebagai ancaman keamanan nasional dan pekan lalu Pengurus Pusat Muhammadiyah menyerukan boikot terhadap Starbucks karena perusahaan yang bergerak di bidang kopi itu mendukung LGBT.
Namun, di saat yang sama, dia juga mengatakan "kami adalah negara mayoritas Muslim terbesar sehingga Indonesia mempunyai norma religius sendiri, nilai-nilai unik dan juga budaya yang harus dihormati."
ISIS Tak Punya Tempat di Indonesia
Gerakan Islam garis keras juga menimbulkan kekhawatiran Indonesia bakal menjadi lahan subur untuk militan Islamis.
Jokowi mengatakan ia akan menekan parlemen untuk bergerak lebih cepat meloloskan undang-undang antiteror baru yang akan mempermudah penangkapan tersangka terorisme.
"Kami membutuhkan undang-undang ini," ujarnya, sambil mengetukkan jari ke meja di depannya.
Gerakan kelompok militan Filipina untuk merebut daerah Marawi dinilai menjadi modal kelompok teror ISIS untuk mendirikan basis di Asia Tenggara.
"ISIS tidak punya tempat di Indonesia," kata Jokowi.
Dia mencatat bahwa Indonesia, Malaysia dan Filipina sudah sepakat menggelar patroli maritim bersama untuk mencegah pergerakan militan di antara ketiga negara. Dia juga mengatakan telah mendiskusikan kerja sama dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte lewat sambungan telepon, pekan lalu.
"Badan keamanan dan intelijen kami terus bekerja keras untuk memerangi ancaman ini. Kami juga terus mempromosikan nilai-nilai Islam moderat dan ketika saya berbicara dengan Presiden Duterte pekan lalu, saya mengatakan 'masalah Anda adalah masalah saya juga'," ujarnya.