"Karena (pemindahan ibu kota) kan berarti bukan hanya memindahkan kantor kepresidenan saja. Tapi bagaimana dengan kementerian dan kedutaan," ujar Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (4/7).
Dan, tentang rencana pemindahan yang kembali mencuat karena pernyataan Ketua Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) tersebut awal pekan ini, Djarot mengatakan Pemprov DKI Jakarta belum pernah dilibatkan dalam penyusunan rencana itu selama ini. Itu, kata dia, adalah kewenangan dari pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, kata dia, persiapan perpindahan ibu kota sudah pasti makan waktu tidak sebentar. Oleh sebab itu, Edi berharap pemerintah dapat menyiapkan kajiannya sebaik mungkin.
"Karena di wilayah baru pun kan harus ada ketenangan. Biar pemerintah bisa bekerja dengan baik demi kepentingan masyarakat. Sehingga kinerja pemerintah tetap bisa terukur," kata dia.
"Yang pasti di luar Pulau Jawa, kemungkinan besar di Pulau Kalimantan. Tapi spesifiknya di mana, itu yang akan difinalkan," ujar Bambang pada awal pekan ini seperti dikutip dari Antara.
Bambang sempat mengatakan, ada beberapa kota kandidat yang berpotensi menjadi ibukota baru. Dia mengakui salah satu kandidat ibukota baru adalah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Terkait munculnya nama Palangkaraya, sebagai kandidat ibukota baru, karena hal tersebut juga pernah digagas oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Adapun untuk pendanaan, Bambang menyatakan pihaknya mendorong swasta untuk terlibat lewat kemitraan publik (Public Private Partnership/PPP).
Bambang menuturkan, pada tahun ini pihaknya akan menyelesaikan kajian terkait rencana pemindahan ibukota negara tersebut. Ia berharap, dalam dua tahun ke depan, sudah mulai ada kegiatan terkait pemindahan pusat administrasi ibukota negara.
"Sudah dibahas juga dengan presiden, kita intinya akan memulai segala proses. Kajian mudah-mudahan tahun ini selesai, termasuk estimasi pendanaannya. Mudah-mudahan kita juga bisa menemukan skema pendanaannya," kata Bambang.